Masya Allah, perjalanan belajar tentang syariat benar-benar tak pernah berhenti.
Setiap langkah terasa penuh cahaya, apalagi ketika Allah hadirkan sosok luar biasa dalam hidup saya — Ustazah Vetiana.
Beliau bukan sekadar guru, tapi sosok yang membimbing saya untuk kembali pada fitrah sejati sebagai seorang perempuan.
Saya masih ingat betul, hal pertama yang saya lakukan setelah belajar bersama beliau adalah mengembalikan posisi diri saya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga.
Dulu, fokus saya begitu besar pada urusan bisnis. Tapi kini, saya mulai menata ulang. Saya kembali memasak, membersihkan rumah, melayani keluarga dengan hati penuh syukur.
Saya memutuskan untuk memberikan 80% waktu saya untuk keluarga, dan 20% untuk bisnis.
Dan Masya Allah, yang terjadi sungguh di luar dugaan — justru produktivitas saya meningkat! Ide-ide baru bermunculan dengan mudah, keberkahan mengalir tanpa henti.
Semua itu tidak lepas dari tiga hal mendasar yang selalu diingatkan oleh guru saya, Ustazah Vetiana:
Fondasi iman yang akhirnya menaungi tiga hal: tawakal, syariat, dan ikhtiar.
Tiga hal ini yang membuat langkah hidup terasa lebih kokoh, lebih tenang, dan lebih terarah menuju rida Allah.
Dari perjalanan inilah saya semakin memahami makna sejati Gerakan Literasi yang sudah berjalan sejak 2014 akhirnya bermetamorfosa menjadi Gerakan Literasi Islami. Bahwa literasi bukan sekadar menulis dan membaca, tapi juga menyentuh hati dan menggerakkan jiwa.
Gerakan Literasi Islami mengajak kita menuliskan rasa syukur, menebarkan ilmu, dan membawa nilai-nilai Qur’ani dalam setiap tindakan.


