Generasi muda saat ini hidup di tengah arus informasi yang tak terbendung. Kemudahan akses digital seringkali mengancam pondasi moral dan spiritual, menjauhkan mereka dari nilai-nilai luhur agama. Di tengah tini, Literasi Islami muncul sebagai solusi fundamental, bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan pemahaman mendalam terhadap sumber ajaran agama, utamanya Al-Qur’an dan Sunah.
Al-Qur’an, wahyu pertama yang diturunkan, diawali dengan perintah “Iqra” (Bacalah), sebuah seruan universal terhadap pentingnya ilmu dan literasi. Dalam konteks Islam, literasi adalah kunci untuk menumbuhkan Generasi Berkarakter Qur’ani, yaitu individu yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, baik dalam ucapan, sikap, maupun tindakan. Membangun generasi ini adalah proyek jangka panjang yang membutuhkan peran kolektif dari keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Hakikat Generasi Berkarakter Qur’ani
Generasi berkarakter Qur’ani jauh melampaui kemampuan membaca Al-Qur’an dengan fasih. Konsep ini mencakup tiga dimensi utama yang harus terintegrasi dalam diri setiap muslim:
Tridimensi Karakter Islami
- Kecintaan pada Al-Qur’an: Fondasi awal adalah menumbuhkan rasa cinta dan ikatan emosional terhadap Kalamullah. Bukan hanya membaca, tetapi juga merasa hampa jika satu hari terlewat tanpa berinteraksi dengannya.
- Pemahaman dan Penghayatan: Literasi Islami menuntut adanya tadabbur (perenungan) terhadap makna ayat-ayat Al-Qur’an. Pemahaman inilah yang menjadi jembatan untuk mengimplementasikan nilai-nilai kebaikan.
- Implementasi dalam Akhlak: Puncak dari karakter Qur’ani adalah manifestasi nilai-nilai seperti jujur (sidq), amanah, sabar, dan rendah hati (tawadhu) dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana Siti Aisyah RA pernah mendeskripsikan akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai Al-Qur’an yang berjalan.
Peran Strategis Literasi Islami dalam Pembentukan Karakter
Literasi Islami berperan sebagai software yang menginstal nilai-nilai kebaikan ke dalam jiwa. Perannya sangat strategis, terutama bagi para ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anak.
Pembentukan Pola Pikir (Mindset)
Literasi membantu membentuk pola pikir kritis dan selektif. Dengan merujuk pada Al-Qur’an dan Hadis sebagai standar kebenaran, generasi muda tidak mudah terombang-ambing oleh ideologi atau tren yang bertentangan dengan ajaran Islam. Mereka belajar membedakan mana yang haq dan mana yang batil.
Penguatan Literasi Digital Berbasis Nilai
Di era digital, literasi Islami harus beradaptasi. Ini berarti mengajarkan anak-anak untuk tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki Literasi Digital Islami, yaitu kemampuan menyaring, mengolah, dan menyebarkan informasi digital berdasarkan etika dan nilai-nilai Islam. Konten yang dibaca dan dibuat harus menjadi sarana dakwah dan penyebar kebaikan, bukan fitnah atau ujaran kebencian.
Menghidupkan Tradisi Keilmuan
Sejarah Islam dipenuhi dengan kejayaan ilmu pengetahuan, yang lahir dari budaya literasi yang kuat di masa Dinasti Abbasiyah. Dengan mendorong literasi Islami, kita menghidupkan kembali semangat mencari ilmu (ulama), menulis (penulis), dan berinovasi (ilmuwan) yang semuanya berlandaskan pada wahyu. Keterampilan menulis yang diasah melalui literasi dapat menjadi modal bagi mereka untuk berdakwah, berbisnis, dan berkarya.
Strategi Praktis Menerapkan Literasi Islami di Keluarga
Membangun karakter Qur’ani harus dimulai dari rumah. Berikut beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan orang tua, khususnya para ibu:
Ciptakan Lingkungan Membaca
- Pajang Buku Bermutu: Sediakan perpustakaan mini di rumah yang berisi buku-buku sirah, tafsir, hadis, dan kisah inspiratif Islami.
- Jadwal “Iqra” Harian: Tetapkan waktu wajib membaca Al-Qur’an dan buku non-pelajaran setiap hari.
Menjadikan Orang Tua Sebagai Role Model
Anak cenderung meniru. Orang tua harus menjadi teladan dengan terlihat rutin membaca Al-Qur’an dan buku-buku agama, serta mengamalkan nilai-nilai yang dibaca.
Diskusi dan Tadabbur Ringan
Setelah membaca Al-Qur’an atau kisah Nabi, ajak anak berdiskusi. Tanyakan, “Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kisah ini?” atau “Bagaimana cara kita menerapkan ayat ini hari ini?” Diskusi ini mengubah literasi dari kegiatan pasif menjadi aktif.
Penutup
Literasi Islami adalah pilar untuk membentuk benteng diri generasi muda di tengah badai perubahan. Dengan mengembalikan fungsi Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, kita tidak hanya mencetak generasi yang pandai membaca, tetapi juga generasi yang memiliki karakter luhur, cerdas spiritual, dan siap menjadi agen perubahan positif bagi peradaban, mewujudkan cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafūr.


