Ada sahabat yang hadir hanya untuk tertawa bersama. Tapi ada juga sahabat yang hadir untuk tumbuh bersama—dalam iman, ilmu, dan amal.
Hari ini saya bertemu dengan Utari, sahabat saya sejak masa kuliah.
Kami tidak sekadar berbagi cerita nostalgia, tapi berbagi arah dan makna hidup. Saya bercerita tentang Gerakan Literasi Islami, tentang bagaimana menulis bisa menjadi jalan dakwah. Saya juga berbagi tentang pemilahan sampah dari rumah—karena bagi kami, menjaga bumi juga bagian dari ibadah.
Obrolan kami tidak berhenti di situ. Kami bicara tentang tawakal, tentang syariat yang harus dipegang teguh, tentang ikhtiar tanpa henti, dan kembali lagi ke tawakal—karena di sanalah ketenangan hakiki ditemukan.
Masya Allah, saya menyadari satu hal:
Sahabat sejati bukan yang sekadar berjalan di samping kita, tapi yang mendorong kita semakin dekat kepada Allah.
Yang ketika kita lelah, ia mengingatkan untuk berdoa.
Yang ketika kita ragu, ia menuntun untuk yakin pada janji-Nya.
Pertemuan dengan Utari hari ini membuat saya bersyukur, karena saya tidak sendirian dalam perjalanan ini. Kami tumbuh, kami belajar, kami berjuang—dan insya Allah, kami akan menua dalam keberkahan yang sama.


