5 C
New York
Senin, Desember 1, 2025

Buy now

spot_img

Literasi Islami: Bukan Tren Sesaat, Fondasi Jati Diri Anak Bangsa

infoindscript.com – Grobogan, 18 Oktober 2025

Bangsa ini menghadapi arus informasi yang deras, sering kali mengikis nilai dan identitas. Dalam pusaran digital, Generasi Z dan Alpha mudah terombang-ambing oleh tren sesaat dan konten viral. Di sinilah Literasi Islami hadir, bukan sekadar kegiatan membaca buku agama, melainkan sebagai fondasi kokoh untuk membangun jati diri yang teguh dan berkarakter. Literasi Islami harus diposisikan sebagai kebutuhan vital, bukan sekadar hobi musiman atau gerakan pop-up yang cepat hilang.

Ancaman Tren Sesaat dan Krisis Identitas

Arus globalisasi dan dominasi media sosial telah menciptakan lanskap di mana tren—baik gaya hidup, bahasa, maupun ideologi—datang dan pergi dengan kecepatan cahaya. Kondisi ini membawa dua konsekuensi besar bagi generasi muda:

Erosi Nilai dan Inkonsistensi Moral

Ketika nilai-nilai diukur berdasarkan popularitas dan like, bukan kebenaran hakiki, maka yang terjadi adalah erosi moral. Anak bangsa cenderung menganut “moralitas musiman”, di mana suatu tindakan dianggap baik hari ini karena viral, namun dicela esok hari. Ketiadaan filter berbasis nilai yang kuat membuat mereka rentan terhadap pemikiran-pemikiran asing yang bertentangan dengan fitrah dan ajaran agama.

Bahaya Ghazwul Fikri Terselubung

Konsep Ghazwul Fikri (perang pemikiran) kini tidak lagi berupa propaganda terang-terangan, melainkan disusupkan melalui konten hiburan, fashion, hingga challenge media sosial. Generasi yang rendah literasinya, khususnya literasi Islami, tidak mampu membedakan antara informasi yang murni hiburan dengan muatan ideologis yang dapat merusak akidah dan identitas kebangsaan mereka. Inilah krisis jati diri yang paling berbahaya.

Literasi Islami sebagai Benteng Jati Diri

Literasi Islami adalah kemampuan untuk membaca, memahami, dan mengaplikasikan nilai-nilai Islam dari sumber otentik (Al-Qur’an dan As-Sunnah) ke dalam konteks kehidupan modern. Literasi jenis ini berfungsi sebagai benteng, memfilter pengaruh negatif dan menanamkan karakter yang kuat.

Penguatan Dimensi Akidah dan Intelektual

Literasi Islami menempatkan akidah sebagai pondasi ilmu. Dengan membaca sirah, sejarah peradaban Islam, dan karya-karya ulama, anak bangsa tidak hanya memahami ajaran, tetapi juga menghargai warisan intelektualnya. Hal ini menghasilkan:

  • Imunitas terhadap Keraguan: Pemahaman mendalam tentang akidah meminimalkan potensi keraguan (syubhat) yang disebarkan oleh kelompok-kelompok ekstrem atau liberal.
  • Keseimbangan Ilmu Dunia Akhirat: Literasi Islami mengajarkan bahwa ilmu adalah alat untuk beribadah. Ini menghasilkan generasi yang cerdas secara sains tetapi tetap berpegang teguh pada tuntunan syariat.

Mendorong Etos Kerja dan Kontribusi Umat

Jati diri yang kuat dalam Islam selalu terkait dengan kontribusi nyata. Literasi Islami, terutama yang berbasis sejarah peradaban (seperti kisah masa Khilafah Abbasiyah atau Utsmaniyah), menunjukkan bahwa kejayaan umat dicapai melalui ilmu, kerja keras, dan amanah.

Hal ini menumbuhkan etos profesionalisme Islami, di mana penulis, pebisnis, maupun profesional berpegang pada kejujuran dan kualitas, bukan sekadar keuntungan material. Literasi menjadi alat untuk beramal saleh.

Aksi Nyata Menggerakkan Literasi Islami

Literasi Islami tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada sekolah atau negara. Perlu adanya gerakan grassroots dan inisiatif kolektif dari masyarakat dan komunitas kreatif.

Revitalisasi Peran Ibu (Pustakawan Pertama)

Ibu adalah pendidik pertama dan utama. Revitalisasi literasi Islami harus dimulai dari rumah, di mana ibu menjadi “Pustakawan Pertama Keluarga”. Ini mencakup:

  • Penciptaan Lingkungan Baca Islami: Menyediakan bahan bacaan yang berkualitas dan berbasis nilai sejak dini.
  • Keluarga Penulis: Mendorong kebiasaan menulis cerita atau jurnal harian yang merefleksikan nilai-nilai Islam, menjadikan rumah sebagai sentra produksi ilmu, bukan hanya konsumsi ilmu.

Komunitas sebagai Mesin Penggerak

Komunitas seperti Indscript Creative memiliki peran strategis untuk menjadi Mesin Penggerak Literasi Islami di luar institusi formal. Caranya:

  • Menciptakan Konten Berkualitas Tinggi: Fokus pada penulisan buku, artikel, dan konten digital yang sarat nilai, fact-checked, dan dikemas secara menarik agar mampu bersaing dengan konten mainstream.
  • Edukasi Menulis dan Berbisnis Syar’i: Memberdayakan penulis untuk tidak hanya menghasilkan karya yang baik, tetapi juga menggunakannya sebagai sumber penghasilan yang halal dan berkah, selaras dengan semangat penulis harus bisa bisnis.

Literasi Islami, dengan demikian, bukan hanya tentang berapa banyak buku yang dibaca, melainkan seberapa dalam nilai-nilai itu meresap dan membentuk karakter anak bangsa. Ia adalah investasi abadi untuk memastikan bahwa generasi penerus memiliki jati diri yang kokoh, tidak terombang-ambing oleh tren, dan mampu menjadi pemimpin yang membawa keberkahan bagi umat dan dunia.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles