Gerakan Literasi Islami terus bergerak, menembus ruang-ruang pendidikan di seluruh Indonesia.
Salah satunya melalui langkah kecil tapi berdampak besar yang dilakukan oleh Ibu Lusijani Misbah, salah satu penulis dari Indscript Creative.
Beliau hadir di Yayasan Babussalam, bukan untuk mengajarkan teori menulis buku,
melainkan untuk mengajak para guru dan karyawan menulis hal-hal yang sederhana namun menenangkan hati: jurnaling.
Bu Lusi membuka sesi dengan satu pesan yang menggugah,
“Menulis tidak harus selalu tentang karya besar. Mulailah dengan menulis rasa.”
Dalam jurnaling, para peserta belajar menuliskan rasa syukur, menuliskan apa yang sudah mereka capai hari ini, dan menuliskan apa yang ingin mereka capai esok.
Hal-hal sederhana, tapi mampu menumbuhkan kesadaran dan ketenangan batin.
Ternyata, dengan menulis seperti ini hidup terasa lebih terarah, hati terasa lebih lapang, dan semangat menjadi lebih hidup.
Kini, program ini tidak berhenti di satu ruang kelas.
Kami melanjutkannya melalui grup WhatsApp khusus di mana setiap peserta menulis jurnal hariannya.
Setiap hari, mereka menuliskan perjalanan rasa dan refleksi diri, dan dipandu langsung oleh Bu Lusi.
Dari sana, kami melihat keajaiban kecil yang tumbuh setiap hari.
Ada yang menulis tentang rasa syukur atas keluarganya.
Ada yang menulis tentang perjuangannya mengajar.
Dan ada yang menulis tentang keinginannya menjadi pribadi yang lebih baik.
Masya Allah, ternyata menulis tidak hanya mengubah cara berpikir, tetapi juga mengubah cara kita memandang hidup.
Gerakan Literasi Islami terus meluas, menjadi cahaya yang menuntun banyak hati untuk kembali kepada makna sejati — bahwa literasi bukan sekadar kemampuan,
tetapi ibadah yang menenangkan jiwa dan menumbuhkan kesadaran akan nikmat Allah.


