Infoindscript.com – Kediri, 14 Oktober 2025
Permasalahan sampah masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan lebih dari 60 juta ton sampah setiap tahunnya, dengan kontribusi signifikan berasal dari kawasan pemukiman dan institusi pendidikan. Sekolah, sebagai salah satu pusat aktivitas masyarakat, memiliki peran penting dalam membentuk perilaku peduli lingkungan sejak dini.
Menyadari pentingnya edukasi dan praktik nyata dalam pengelolaan sampah, Bank Sampah Bersinar (BSB) menghadirkan program inovatif bertajuk “BSB Goes To School”. Program ini dirancang sebagai gerakan kolaboratif antara pemerintah, sekolah, pelajar, guru, serta berbagai pihak swasta dan komunitas. Tujuannya tidak hanya membangun kesadaran, tetapi juga menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di lingkungan sekolah.
Pra-Kegiatan: Fondasi Program yang Terencana dan Kolaboratif
Tahap awal dari program BSB Goes To School diawali dengan serangkaian langkah strategis yang disebut Pra-Kegiatan. Pada fase ini, tim BSB melakukan berbagai persiapan untuk memastikan program dapat berjalan efektif dan tepat sasaran.
Kegiatan pra-program meliputi penyusunan liputan ide awal, yang berangkat dari identifikasi masalah dan perumusan solusi konkret terhadap persoalan sampah di sekolah. Selanjutnya, dilakukan surat audiensi kepada instansi pemerintah seperti Dinas Pendidikan dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sebagai bentuk legalitas dan dukungan kebijakan.
Tim juga menyiapkan proposal singkat (1 lembar) yang ditujukan kepada sekolah-sekolah calon peserta program. Proposal ini memuat deskripsi program, manfaat, serta bentuk keterlibatan sekolah. Untuk menarik minat siswa, dirancang pula tempat sampah yang bersifat “instagramable”, sehingga pengelolaan sampah menjadi kegiatan yang menyenangkan dan tidak monoton.
Pra-kegiatan juga mencakup sosialisasi awal kepada guru, siswa, serta lingkungan sekolah dengan melibatkan penggerak sampah. Dalam konteks kolaborasi, BSB menjalin kerja sama dengan pengusaha melalui program CSR, serta OSIS yang berperan penting dalam rekrutmen duta sampah sekolah.
Langkah penting lainnya adalah pencatatan data sekolah sasaran, penandatanganan MoU dengan Dinas Pendidikan, dan benchmarking internasional ke negara-negara yang sukses mengelola sampah, seperti Denmark.
Program ini juga mendapat dukungan langsung dari pemerintah daerah, melalui seminar khusus dan edaran Bupati yang menegaskan komitmen daerah terhadap pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Tidak kalah penting, BSB mengintegrasikan programnya dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya target terkait konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (SDG 12).
Untuk memperkuat daya jangkau pesan, content creator lokal turut dilibatkan dalam tahap pra-kegiatan guna membangun awareness melalui media sosial dan liputan digital yang kreatif.
Kegiatan: Edukasi, Aksi Nyata, dan Inovasi Ramah Anak
Setelah tahap persiapan matang, program dilanjutkan dengan berbagai aktivitas utama di sekolah-sekolah. BSB menghadirkan konsep “Laboratorium Tata Kelola Sampah”, di mana sekolah menjadi pusat pembelajaran dan praktik pengelolaan sampah yang terstruktur.
Tim kemudian membantu pembentukan “Team BSB” di setiap sekolah, yang terdiri atas siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Tim ini berperan sebagai motor penggerak kegiatan kebersihan dan pengelolaan sampah di lingkungan sekolah.
Dalam semangat inklusivitas, BSB juga mengundang pemulung untuk makan siang bersama, sekaligus melibatkan mereka dalam kegiatan pengambilan sampah. Langkah ini bertujuan menumbuhkan empati sosial di kalangan siswa dan menghapus stigma negatif terhadap profesi pemulung.
Selain itu, BSB turut mengadakan renovasi kecil pada bangunan pengelolaan sampah agar lebih “kids friendly” dan menarik bagi siswa. Sekolah juga difasilitasi dengan tempat sampah berdesain menarik serta ikon tokoh populer untuk meningkatkan partisipasi anak-anak.
Beberapa kegiatan lain yang menjadi bagian penting dari program ini antara lain:
- Seminar pengelolaan sampah bagi guru dan kepala sekolah,
- Wisata edukatif ke BSB,
- Produksi mobil sampah edukatif dengan sosialisasi yang dikemas lucu dan interaktif,
- Sistem pilah sampah yang sederhana dan mudah diterapkan,
- Audisi Duta Anak BSB, yang berfungsi sebagai teladan dan penggerak literasi lingkungan di kalangan pelajar.
BSB juga secara rutin melakukan sosialisasi berkelanjutan ke sekolah-sekolah mitra agar semangat kepedulian lingkungan tidak berhenti hanya pada kegiatan awal, melainkan tumbuh menjadi budaya sekolah.
Output: Dampak Nyata dan Keberlanjutan Program
Keberhasilan BSB Goes To School tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan, tetapi juga dari dampak nyata yang dihasilkan. Beberapa hasil atau output yang telah dan akan dicapai antara lain:
- 1.000 sekolah terlibat aktif, baik di tingkat dasar, menengah, maupun atas.
- Program awarding bulanan dan tahunan sebagai bentuk apresiasi bagi sekolah dan siswa berprestasi dalam pengelolaan sampah.
- Liputan media rutin untuk memperluas jangkauan informasi serta menginspirasi sekolah-sekolah lain.
- Workshop tematik yang mengangkat isu spesifik, seperti daur ulang kreatif, ekonomi sirkular, dan pengelolaan limbah organik.
- Aktivitas media sosial yang konsisten, dikelola oleh content creator muda, untuk menampilkan berbagai kisah inspiratif dari sekolah-sekolah peserta.
- Beasiswa tata kelola sampah bagi siswa berprestasi yang menunjukkan dedikasi tinggi terhadap pelestarian lingkungan.
- Penghargaan “Anak Peduli Sampah” yang diberikan secara berkala sebagai motivasi dan bentuk pengakuan atas kontribusi generasi muda.
- Kolaborasi dengan content creator Bandung, yang membantu memperluas pesan gerakan ini di kalangan remaja dan masyarakat luas.
Output tersebut menjadi indikator keberhasilan program dalam menumbuhkan budaya ramah lingkungan di sekolah, sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi antar-sektor.
Kolaborasi sebagai Kunci Keberhasilan
Salah satu kekuatan utama dari program ini adalah pendekatan kolaboratif dan partisipatif. BSB menyadari bahwa isu lingkungan tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Oleh karena itu, kemitraan dengan pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, Dinas Lingkungan Hidup, dunia usaha, komunitas, hingga media digital menjadi strategi penting yang menjamin keberlanjutan gerakan.
Keterlibatan OSIS, guru, dan kepala sekolah menjadikan program ini lebih kontekstual dan mudah diterapkan di lingkungan pendidikan. Selain itu, dukungan CSR dari sektor swasta memberikan sumber daya tambahan untuk pelaksanaan kegiatan, seperti renovasi fasilitas atau penyediaan tempat sampah tematik.
Dengan konsep yang inklusif, setiap pihak memiliki peran aktif, baik sebagai pelaku, penggerak, maupun penyebar inspirasi. Hal ini membangun ekosistem positif yang tidak hanya mengubah perilaku, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dalam menjaga bumi
Menuju Sekolah Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan
Tujuan jangka panjang dari BSB Goes To School adalah menciptakan sekolah berkarakter hijau (green school), di mana pengelolaan sampah menjadi bagian dari sistem pendidikan dan gaya hidup sehari-hari.
Dengan adanya laboratorium tata kelola sampah, siswa dapat belajar secara langsung tentang prinsip reduce, reuse, recycle (3R) serta memahami nilai ekonomi dari sampah. Sementara itu, dukungan berkelanjutan melalui beasiswa, workshop, dan penghargaan memastikan bahwa semangat kepedulian lingkungan terus hidup dari generasi ke generasi.
Program ini juga menjadi model inspiratif bagi daerah lain dalam mengintegrasikan edukasi lingkungan dengan pembangunan berkelanjutan. Dengan mengusung nilai-nilai kolaborasi, empati, dan inovasi, Bank Sampah Bersinar membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil di sekolah-sekolah Indonesia.
Penutup
BSB Goes To School bukan sekadar program pengelolaan sampah, tetapi sebuah gerakan nasional yang menggabungkan edukasi, aksi nyata, dan nilai kemanusiaan. Melalui pendekatan yang menyeluruh, program ini berhasil menjadikan sekolah sebagai pusat perubahan perilaku dan budaya baru dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Dengan dukungan berbagai pihak, pemerintah, masyarakat, dan pelaku industry, gerakan ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian terhadap sampah dapat bertransformasi menjadi kekuatan besar untuk menciptakan masa depan yang lebih bersih, hijau, dan berkelanjutan.***


