Tahun 2004 adalah tahun yang mengubah arah hidup saya.
Waktu itu saya memutuskan untuk menulis buku — dan tanpa ragu, saya menggunakan Indie Publisher. Saya mendanai sendiri, mencetak sendiri, bahkan mendistribusikan sendiri. Tidak ada sistem royalti, tapi setiap buku yang terjual, keuntungannya langsung saya terima. Rasanya luar biasa… bukan hanya karena uangnya, tapi karena saya melihat karya saya sampai ke tangan pembaca.
Lalu, di tahun 2005, saya mendapatkan tawaran dari Penerbit Grasindo, bagian dari grup besar Kompas Gramedia. Saya resmi merasakan sistem royalti.
Setiap buku yang terjual, saya mendapatkan 10% dari harga bruto. Nilainya tidak besar, tapi ada rasa bangga tersendiri saat melihat nama saya tercetak di buku yang dijual di toko-toko besar. Saya juga masih bisa membeli buku itu dengan harga diskon — dan sepanjang buku itu terus terjual, royalti pun terus saya terima, maksimal selama lima tahun masa edar buku.
Namun, dari perjalanan itu saya belajar satu hal penting: royalti bukan segalanya.
Royalti hanya akan datang jika buku terjual. Dan buku tidak akan terjual kalau penulisnya diam.
Penulis zaman sekarang tidak bisa hanya menunggu.
Kita harus ikut berjuang — mempromosikan karya di media sosial, mengadakan bedah buku, membangun komunitas pembaca, dan menyebarkan pesan dari isi buku kita.
Jadi, menulis bukan hanya tentang royalti.
Menulis adalah tentang memberi manfaat, tentang menyebarkan cahaya lewat kata, dan tentang berkah yang tidak selalu dihitung dengan angka.
Karena ketika niat kita lurus untuk menulis demi kebaikan, rezeki itu akan datang dari arah yang tidak pernah kita duga.


