Pernah nggak sih kamu merasa ada suara kecil di kepala yang terus mengomentari setiap langkahmu?
Kadang ia bilang, “Kamu bisa, ayo semangat!”, tapi sering juga berubah jadi suara yang menusuk, “Kamu nggak cukup baik, kamu pasti gagal.”
Nah, suara inilah yang disebut sebagai narasi batin cerita yang kita ulang-ulang di kepala, yang tanpa sadar membentuk cara kita melihat diri sendiri, orang lain, bahkan masa depan.

Narasi batin ibarat kacamata. Kalau kacamatanya buram, semua hal terlihat suram. Tapi kalau kacamatanya jernih, kita bisa melihat peluang dan harapan.
Itulah kenapa penting banget untuk sadar cerita apa yang kita izinkan hidup di pikiran kita.
Dalam sebuah wawancara Robyne Hanley dengan seorang Petra Kolber. Petra adalah penulis buku The Perfection Detox, pembicara. Positive Psychology Performance Coach, ia bercerita bahwa masa kecilnya dipenuhi dengan pesan-pesan yang membatasi.
Banyak orang di sekitarnya sering berkata, *“Jangan bermimpi terlalu besar.” Kalimat sederhana itu, tanpa disadari, menanamkan keyakinan bahwa keinginan untuk meraih mimpi harus disembunyikan, bahwa bermimpi besar bukan untuk dirinya.
Namun, sebuah pertemuan kecil mengubah semuanya. Ia mendengar seseorang berkata dengan penuh keyakinan, *“Kejar mimpimu.” Kalimat itu terasa seperti cahaya membuka energi dan keyakinan baru bahwa apa pun mungkin terjadi.
Meski masih ada pergulatan antara narasi lama dan yang baru, pengalaman itu menjadi titik balik. Ia mulai belajar melepaskan cerita-cerita lama yang membatasi, memberi dirinya izin untuk percaya bahwa bermimpi besar, merayakan pencapaian, dan berani menginginkan lebih adalah hal yang sehat bahkan penting.
Percakapan itu membuat Robyne Hanley merenung tentang makna sebenarnya dari membangun kehidupan yang penuh arti dan kebahagiaan.
Bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil dari keberanian untuk menantang cerita lama yang sudah tidak lagi relevan.
Dengan sedikit perubahan, welas asih pada diri sendiri, dan keberanian untuk melangkah menuju mimpi, kita bisa menciptakan hidup yang lebih bermakna, lebih bahagia, dan penuh kemungkinan.
Mengenali inner critic yang membatasi potensi diri
Inner critic adalah bagian dari diri kita yang selalu mengkritik, meragukan, bahkan meremehkan kemampuan kita. Misalnya, saat ingin memulai bisnis, inner critic bisa berkata: “Ah, nanti gagal juga.” atau ketika ingin menulis: “Tulisanmu siapa sih yang mau baca?”
Masalahnya, kalau terus kita dengarkan, suara ini bisa jadi “penjara tak kasat mata” yang membatasi langkah. Padahal, banyak potensi diri terpendam yang justru lahir kalau kita berani melawan keraguan itu.
Langkah pertama adalah sadar. Kenali kapan inner critic muncul? Apakah saat mencoba hal baru? Saat ingin tampil? atau justru ketika membandingkan diri dengan orang lain?
Dengan mengenalinya, kita bisa mulai memisahkan: mana kritik yang realistis, dan mana yang hanya rasa takut menyamar jadi logika.
Teknik Menulis Jurnal untuk Mengubah Narasi Negatif
Salah satu cara paling sederhana tapi powerful adalah **menulis jurnal**. Bukan untuk membuat karya sastra, tapi sekadar menuliskan isi kepala.
Coba lakukan langkah ini:
1. Tuliskan suara negatif . Apa yang muncul hari ini. Misalnya: “Aku merasa tidak cukup pintar.
2. Tantang suara itu dengan menulis fakta. Misalnya: “Aku memang belum tahu semua hal, tapi aku belajar setiap hari.
3. Buat narasi baru yang lebih sehat. Misalnya: “Aku sedang dalam proses, dan proses ini membuatku berkembang.
Latihan ini membantu kita “mendengar ulang” isi kepala, lalu mengganti naskah negatif dengan cerita yang lebih memberdayakan. Lama-lama, otak akan terbiasa dengan narasi baru yang lebih positif.
Cerita Hidup yang Bisa Diubah dengan Mindset Positif
Banyak kisah nyata yang membuktikan kekuatan narasi batin. Ada orang yang dulunya minder karena sering gagal di sekolah, tapi saat mengubah ceritanya menjadi: “Aku bukan gagal, aku hanya butuh cara belajar berbeda,” ia justru berhasil jadi guru yang menginspirasi banyak murid.
Ada juga penulis yang awalnya merasa tulisannya tidak ada yang peduli. Namun dengan mengubah narasi dari “Aku tidak berbakat,” menjadi “Aku bisa berbagi pengalaman untuk orang lain,” akhirnya tulisan-tulisannya justru mendapat banyak pembaca.
Perubahan cerita di pikiran ternyata bisa mengubah arah hidup. Mindset positif bukan berarti mengabaikan realita, tapi memilih fokus pada potensi, peluang, dan proses.
Penutup: Cerita Apa yang Kamu Pilih?
Setiap hari, kita selalu menulis cerita—bukan di kertas, tapi di kepala. Dan cerita itulah yang jadi pondasi tindakan kita.
Kalau narasi batin terus diisi kritik, kita mudah berhenti. Tapi kalau diisi keberanian dan harapan, kita akan terus melangkah.
Jadi, mulai sekarang coba tanyakan pada diri sendiri: “Apakah cerita dalam kepalaku membantu aku tumbuh, atau justru membatasi?”
Ingat, kita tidak selalu bisa mengontrol dunia luar, tapi kita bisa memilih cerita di dalam diri.
Hidup yang bahagia seringkali dimulai dari narasi batin yang sehat. Mari menulis ulang cerita kita, dengan kalimat yang lebih penuh kasih, harapan, dan keberanian.
Dalam sebuah wawancara dengan seorang Positive Psychology Performance Coach bahwa masa kecilnya banyak yang berkata ” Jangan Bermimpi terlalu besar ada pesan-pesan yang membuat keinginan dalam meraih mimpi disembunyikan lalu sebuah pertemuan kecil mengubah perspektifnya: ketika ia mendengar seseorang berkata, “Kejar mimpimu.”
Referensi:
psychologytoday.com, Building a Life of Meaning, Joy, and Possibility, Dafoe .Ed.D Robyne Hanley, tanggal akses 29 september 2025
counselwise.ad, Our Inner Narrative; what is it and can we change it? Dewar Kristine, tanggal akses 30 September 2025


