5 C
New York
Senin, Desember 1, 2025

Buy now

spot_img

Buku Terbaru Indscript: Saat Aku Tahu Allah Tak Pernah Pergi

Infoindscript.com – Kediri, 28 September 2025

Hidup adalah perjalanan panjang yang penuh dengan warna. Ada saat di mana kita berdiri tegak di puncak kesuksesan, namun ada pula masa ketika kita terjerembab di lembah kegagalan. Ada waktu ketika hati lapang, namun ada juga saat di mana dada terasa sesak oleh beban ujian. Semua itu adalah bagian dari proses kehidupan yang telah Allah gariskan. Di tengah dinamika itulah manusia diuji: apakah ia akan menjadikan iman sebagai penopang, atau justru kehilangan arah karena lupa pada Sang Pencipta.

Buku Saat Aku Tahu Allah Tak Pernah Pergi, yang diterbitkan oleh Indscript, hadir sebagai saksi perjalanan iman itu. Buku ini bukan sekadar kumpulan cerita, melainkan catatan kehidupan nyata yang lahir dari hati. Para penulis di dalamnya membuka kisah pribadi dengan kejujuran, menceritakan luka, perjuangan, dan kebangkitan. Itulah yang membuat buku ini begitu Istimewa, ia mampu menyentuh relung terdalam pembaca karena kisah-kisahnya nyata, dekat, dan penuh makna.

 

Mengapa Buku Ini Begitu Istimewa?

Setiap buku memiliki jiwa, dan jiwa buku ini adalah keimanan. Kisah-kisah yang terangkum di dalamnya mengajarkan bahwa Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan hamba-Nya. Dalam derai air mata, dalam kebangkrutan, dalam rasa sakit, bahkan dalam kehilangan, selalu ada ruang untuk kembali menemukan-Nya.

Buku ini berbeda karena tidak hanya menghadirkan cerita sukses di akhir kisah, melainkan juga proses panjang penuh perjuangan yang dilalui para penulis. Ada tetes air mata, doa yang tak pernah berhenti, dan langkah-langkah kecil penuh pengorbanan yang justru menguatkan iman. Itulah yang membuat buku ini begitu istimewa: ia tidak sekadar memberi hiburan, tetapi juga pengingat dan penuntun.

 

Penggalan Kisah-Kisah Inspiratif

Berikut ini beberapa penggalan kisah inpiratif yang diambil dari buku Buku Saat Aku Tahu Allah Tak Pernah Pergi:

Ibu Firdaus: Doa yang Mengubah Jalan Hidup

Kisah Ibu Firdaus adalah cermin kesabaran seorang ibu. Anaknya sempat dicap “nakal” oleh banyak orang. Alih-alih menyerah pada keadaan, ia memilih jalan doa dan kesabaran. Siang malam ia bermunajat, berharap Allah melembutkan hati putranya. Perlahan, doa itu membuahkan hasil. Sang anak berubah, menemukan jalannya, dan akhirnya meraih kesuksesan. Dari cerita ini kita belajar bahwa doa seorang ibu adalah senjata paling dahsyat yang tidak pernah mengenal kata gagal.

Ibu Hasna: Amanah di Tengah Keletihan

Kehamilan anak ketiga di tengah kesibukan kuliah dengan beasiswa di Jeddah adalah tantangan besar bagi Ibu Hasna. Dua anak balita masih membutuhkan perhatian, sementara dirinya dilanda kegelisahan menghadapi amanah baru. Ada masa-masa ketika tubuh lelah dan hati gamang. Namun, Allah tidak pernah membiarkannya sendiri. Pertolongan hadir melalui orang-orang baik yang memberi dukungan. Dari kisah ini, kita diingatkan bahwa setiap amanah dari Allah, betapapun berat, selalu datang bersama kekuatan untuk menjalaninya.

Ibu Lucy: Cinta untuk Sang Buah Hati

Ujian berat menimpa Ibu Lucy ketika anaknya divonis menderita epilepsi akibat kegagalan imunisasi. Dunia seakan runtuh, namun ia memilih bertahan. Hari demi hari ia rawat sang buah hati dengan penuh kasih sayang, meski kelelahan sering kali menyelimuti. Ia tidak pernah menyerah, karena cintanya lebih besar dari rasa takut. Dari perjalanan ini, kita menyadari bahwa cinta seorang ibu, jika dibingkai dengan iman, dapat menjadi sumber energi tak terbatas untuk menghadapi ujian apa pun.

Ibu Arie Widowati: Ujian Kehilangan Sang Imam

Perjalanan Ibu Arie Widowati penuh liku. Dari masa lajang hingga akhirnya menikah, kehidupannya bersama sang suami berjalan dengan berbagai dinamika. Sang imam keluarga berani mengambil risiko besar dalam bisnis, dan keluarga sempat merasakan kerugian yang tidak sedikit. Cobaan berlanjut ketika sang suami jatuh sakit. Hingga akhirnya, Allah memanggil sang imam kembali ke sisi-Nya. Kehilangan itu begitu menyayat, namun Ibu Arie belajar menerima dengan ikhlas. Baginya, kepergian suami bukanlah akhir, melainkan pengingat akan pentingnya menghargai kehadiran orang terdekat selama mereka masih ada.

Ibu Yuyun: Menaklukkan Badai Finansial

Sebagai seorang guru ekonomi, Ibu Yuyun justru harus menghadapi badai keuangan dalam rumah tangganya sendiri. Namun ia tidak menyerah. Dengan komunikasi yang sehat bersama keluarga dan ketaatan kepada Allah, ia berhasil melewati masa sulit itu. Kisahnya membuktikan bahwa iman dan komunikasi adalah fondasi yang kokoh untuk membangun keluarga yang tangguh.

Ibu Lenny: Batasan Hanyalah Ilusi

Lahir dari ibu yang hanya lulusan SD, Ibu Lenny tumbuh dengan keyakinan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang. Ia membuktikan bahwa mimpi besar bisa diraih siapa saja yang berani percaya. Dari melancong ke berbagai destinasi hingga menginap di hotel mewah, semua yang dulu dianggap mustahil menjadi nyata. Ceritanya adalah pengingat bahwa batasan sering kali hanya ada di dalam pikiran kita sendiri.

Ibu Hilzahra: Mukjizat Doa dan Perubahan Hidup

Di usia senja, Ibu Hilzahra harus menghadapi ancaman saraf kejepit yang membuatnya hampir menyerah. Jalan medis menawarkan operasi dengan biaya 200 juta rupiah. Namun ia memilih ikhtiar lain: doa yang tulus dan perubahan gaya hidup. Keajaiban pun hadir. Tanpa operasi, ia berangsur sembuh. Pengalaman ini adalah bukti nyata bahwa mukjizat doa selalu ada bagi mereka yang yakin dan sabar menanti jawaban-Nya.

Puluhan Kisah Inspiratif Lainnya

Selain kisah-kisah di atas, masih ada puluhan perjalanan hidup lain yang tidak kalah menggugah hati. Setiap penulis menyumbangkan fragmen kisah mereka yang unik, tentang perjuangan melawan penyakit, tentang membangun kembali semangat setelah kegagalan, hingga tentang menemukan makna bahagia dalam kesederhanaan. Inilah yang membuat buku ini begitu kaya: ia bukan sekadar kumpulan cerita, melainkan sebuah mosaik kehidupan.

Rekomendasi Buku Ini

Membaca Saat Aku Tahu Allah Tak Pernah Pergi bagaikan berjalan di taman kehidupan, di mana setiap kisah adalah bunga yang mekar dengan warna dan aroma berbeda. Ada bunga kesabaran, ada bunga cinta, ada bunga ikhlas, dan ada pula bunga doa. Semuanya menyatu menjadi buket indah yang menguatkan hati pembaca.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa pun yang sedang merasa goyah dalam menghadapi ujian hidup. Bagi para ibu, buku ini menghadirkan kekuatan luar biasa dari kisah sesama perempuan yang mampu bertahan dalam badai. Bagi para ayah, buku ini menjadi pengingat bahwa perjuangan pasangan hidup adalah sesuatu yang patut dihargai. Bahkan bagi anak muda, buku ini adalah pelita yang menuntun mereka agar tidak mudah putus asa.

Lebih dari itu, buku ini juga cocok menjadi bahan renungan keluarga. Kisah-kisah di dalamnya bisa dibaca bersama, didiskusikan, dan dijadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup

Pada akhirnya, Saat Aku Tahu Allah Tak Pernah Pergi bukan sekadar buku, melainkan pengingat lembut bahwa Allah selalu dekat. Ia hadir melalui doa seorang ibu, melalui kekuatan cinta, melalui kesabaran dalam sakit, hingga melalui keberanian menerima kehilangan. Setiap halaman adalah undangan untuk merenung, setiap kisah adalah pelajaran, dan setiap pengalaman adalah jalan pulang menuju Allah.

Membaca buku ini ibarat menemukan cermin yang memantulkan wajah kita sendiri, dengan segala kelemahan, ketakutan, sekaligus harapan. Dan dari cermin itu, kita diajak untuk tersenyum, karena sadar bahwa dalam setiap langkah, Allah tak pernah benar-benar pergi.

Buku ini adalah persembahan bagi jiwa-jiwa yang ingin kembali meneguhkan keyakinan, agar kita semua mampu menjalani hidup dengan hati yang lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih dekat dengan-Nya.***

 

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles