Infoindscript.com – Kediri, 16 September 2025
Persoalan sampah masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa dari jutaan ton sampah yang dihasilkan setiap tahun, hanya sebagian yang berhasil dikelola secara layak. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan pencemaran lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat dan kualitas hidup secara umum.
Di tengah kompleksitas persoalan tersebut, hadir Bank Sampah Bersinar sebagai salah satu solusi inovatif. Dipelopori oleh Ibu Fifie Rahardja, program ini membuktikan bahwa sampah dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
Awal Mula Berdirinya Bank Sampah Bersinar
Bank Sampah Bersinar lahir dari kepedulian Ibu Fifie terhadap kondisi Sungai Citarum yang sering meluap akibat tumpukan sampah. Melihat kerusakan lingkungan yang terus terjadi, beliau tergerak untuk mencari solusi yang tidak hanya menyentuh aspek kebersihan, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Konsep yang diusung sederhana namun efektif: sampah diperlakukan layaknya tabungan. Warga membawa sampah kering yang masih bernilai jual, seperti plastik, kertas, kaleng, dan botol kaca, untuk ditimbang. Nilai sampah tersebut kemudian dicatat dalam buku tabungan dan dapat ditukar dengan kebutuhan sehari-hari, seperti sembako. Selain itu, tabungan juga dapat digunakan untuk biaya sekolah, pembayaran listrik hingga cicilan rumah.
Sistem dan Mekanisme Pengelolaan
Bank Sampah Bersinar mengelola sampah dengan sistem yang terstruktur, sehingga mudah dipahami dan diikuti oleh warga.
1. Penilahan Sampah
Langkah pertama dalam sistem Bank Sampah Bersinar adalah pemilahan sampah sejak dari rumah. Warga diajak untuk memisahkan sampah ke dalam kategori yang mudah dikenali, antara lain:
-
- Plastik: botol minuman, gelas kemasan, kantong plastik, hingga wadah sekali pakai.
- Kertas: kardus, koran, majalah, buku bekas, maupun kertas fotokopi.
- Logam: kaleng minuman, aluminium, maupun besi ringan.
- Kaca: botol kaca, pecahan gelas, atau wadah kaca tanpa isi makanan/minuman.
Sampah organik seperti sisa makanan tidak masuk dalam kategori tabungan, tetapi tetap dianjurkan untuk diolah menjadi kompos. Dengan begitu, limbah rumah tangga dapat ditekan semaksimal mungkin.
Setelah dipilah, sampah kering yang bersih dapat disetor ke Bank Sampah Bersinar pada jadwal yang sudah ditentukan. Bagi warga yang tinggal jauh atau belum ada akses ke bank sampah, sampah terpilah juga bisa disetorkan ke pengepul terdekat. Kedua jalur ini sama-sama memberi manfaat: sampah tidak menumpuk, masyarakat mendapat nilai tukar, dan lingkungan tetap terjaga kebersihannya.
2. Pencatatan Tabungan
Setiap warga memiliki buku tabungan sampah. Nilai rupiah dari hasil timbangan dicatat secara transparan, sehingga masyarakat dapat mengetahui saldo yang mereka miliki.
3. Penyaluran Hasil
Tabungan sampah dapat dicairkan untuk kebutuhan ekonomi rumah tangga atau digunakan untuk mendukung kegiatan sosial masyarakat. Dengan demikian, sistem ini tidak hanya memberi manfaat finansial, tetapi juga memperkuat rasa kepedulian.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Keberadaan Bank Sampah Bersinar memberikan dampak yang luas, baik secara ekonomi maupun sosial.
- Dampak Ekonomi
Banyak keluarga mendapatkan penghasilan tambahan dari hasil tabungan sampah. Hal ini membantu meringankan beban hidup, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah. - Dampak Sosial
Program ini memperkuat ikatan sosial di masyarakat. Aktivitas memilah, menabung, dan mengelola sampah dilakukan bersama-sama, sehingga tercipta budaya gotong royong yang lebih nyata. - Dampak Lingkungan
Sampah yang sebelumnya menumpuk di jalan, selokan, atau sungai berkurang drastis. Lingkungan menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman untuk ditinggali.
Kolaborasi dengan Komunitas dan Pemerintah
Kesuksesan Bank Sampah Bersinar tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Program ini melibatkan:
- Masyarakat yang menjadi aktor utama dalam pengumpulan dan pemilahan sampah.
- Komunitas lokal, seperti Indscript Creative, Sekolah Perempuan Indonesia dan Emak Pintar Indonesia, yang aktif mengedukasi masyarakat, khususnya perempuan agar berperan sebagai motor perubahan lingkungan dari lingkup rumah tangga.
- Pemerintah daerah, yang memberikan dukungan kebijakan dan fasilitas.
- Lembaga mitra, seperti pengepul dan pabrik daur ulang, yang memastikan sampah kembali masuk ke siklus ekonomi.
Kolaborasi ini menjadikan Bank Sampah Bersinar bukan sekadar gerakan lokal, melainkan model tata kelola sampah berbasis masyarakat yang dapat direplikasi di berbagai daerah lain.
Menuju Ekonomi Sirkular yang Berkelanjutan
Prinsip ekonomi sirkular menekankan bahwa setiap barang yang diproduksi harus dimanfaatkan kembali setelah digunakan. Bank Sampah Bersinar menerapkan prinsip ini secara nyata: sampah yang dikumpulkan tidak berakhir di TPA, tetapi diolah agar memiliki siklus hidup baru.
Lebih jauh lagi, program ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah dapat menghadirkan nilai tambah ekonomi. Sampah menjadi “mata uang baru” yang membantu masyarakat memenuhi kebutuhan, mendukung program sosial, dan menjaga lingkungan sekaligus.
Penutup
Bank Sampah Bersinar adalah contoh nyata bagaimana sebuah inisiatif lokal mampu menjawab tantangan global. Dengan pendekatan sederhana namun konsisten, program ini menghadirkan solusi atas persoalan sampah sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi sirkular di tengah masyarakat.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa sampah tidak selalu identik dengan masalah. Jika dikelola dengan baik, sampah justru menjadi sumber daya yang mendukung kesejahteraan ekonomi, memperkuat solidaritas sosial, dan menjaga kelestarian lingkungan.
Dengan dukungan kolaboratif antara masyarakat, komunitas, dan pemerintah, Bank Sampah Bersinar berpotensi menjadi model nasional dalam tata kelola sampah berkelanjutan. Dari sampah, lahirlah berkah; dari kepedulian, lahirlah perubahan.***


