Pagi itu di RW 05 Kelurahan Sekeloa, Kota Bandung, suasana balai RW terasa lebih hidup. Karung-karung berisi botol plastik, kardus bekas, hingga kertas koran berjajar di pojok ruangan. Warga bergantian datang, membawa hasil pilahan sampah dari rumah masing-masing. Di balik meja, seorang perempuan berkerudung sibuk menimbang dan mencatat saldo di buku tabungan. Dialah Bu Yayah Supriyatini, Ketua Bank Sampah Sekeloa Bersih.
“Setiap sampah ada nilainya, tinggal kita rajin pilah saja,” katanya sambil tersenyum, memberi semangat kepada seorang ibu muda yang baru pertama kali ikut setor sampah.
Dari Skeptis Jadi Semangat
Awalnya, warga skeptis. Mereka merasa, untuk apa repot memilah kalau toh tiap pagi petugas sampah tetap datang. Tapi Bu Yayah tak menyerah. Ia mendatangi rumah-rumah, menunjukkan botol plastik dan kardus yang berhasil ia tukar menjadi uang tunai. “Daripada dibuang, ini bisa ditabung. Kalau terkumpul, lumayan untuk bayar listrik atau beli beras,” ujarnya.
Perlahan, warga mulai tergerak. Kini, sudah lebih dari 50 nasabah aktif rutin menyetorkan sampah ke bank sampah. Dampaknya langsung terasa: lingkungan lebih bersih, jumlah sampah yang dibuang ke TPS berkurang, dan ada tambahan penghasilan kecil yang membuat warga tersenyum bangga.
Kawasan Bebas Sampah: Dari Target ke Kenyataan
Kisah di Sekeloa adalah potongan dari gerakan besar di Kota Bandung. Pemerintah menargetkan 700 RW menjadi Kawasan Bebas Sampah (KBS) pada 2025. Hingga pertengahan tahun, sudah lebih dari 400 RW yang aktif menjalankan program ini.
Di setiap RW, bank sampah menjadi motor penggerak. Warga belajar memilah sejak dari dapur: organik untuk kompos, anorganik untuk ditabung. Para ketua RW melihatnya sebagai kebanggaan bersama. “Kalau RW kita bisa mandiri kelola sampah, berarti kita sudah bantu Bandung kurangi beban TPA Sarimukti,” ujar seorang pengurus lingkungan di Kecamatan Cicendo.
Teknologi di Genggaman
Sementara itu, teknologi juga ikut mempercepat perubahan. Aplikasi Sapawarga, milik Pemprov Jawa Barat, kini punya fitur khusus Bank Sampah. Melalui aplikasi ini, warga bisa mengecek lokasi bank sampah terdekat, tahu harga jual plastik, kertas, hingga logam, serta terhubung dengan pengelola.
Bagi Dimas, seorang mahasiswa ITB yang kos di Bandung, fitur ini sangat membantu. “Enak banget, tinggal buka HP, saya tahu harus bawa kemana botol plastik atau kardus. Jadi lebih semangat nabung sampah daripada buang sembarangan,” katanya. Data resmi membuat warga percaya, sekaligus menumbuhkan generasi muda yang peduli lingkungan.
Bougenville: Dari Sampah Jadi Karya Seni
Tak jauh dari Taman Film Bandung, ada kisah lain yang penuh kreativitas. Bank Sampah Bougenville digerakkan oleh ibu-ibu rumah tangga yang awalnya hanya menabung sampah plastik. Namun, ide berkembang: bungkus kopi disulap menjadi tas, kertas koran dijadikan hiasan dinding, dan botol plastik diubah menjadi pot bunga.
Produk-produk itu dijual di bazar komunitas, bahkan dipesan oleh kafe kecil di kawasan Dago. “Dulu saya malu kalau bawa sampah ke bank sampah. Sekarang malah bangga, karena hasilnya bisa jadi karya seni yang dipakai orang lain,” kata Bu Rini, salah satu penggerak Bougenville. Kreativitas ini memberi nilai tambah, sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Kabupaten Sekitar Ikut Bergerak
Gerakan bank sampah juga meluas ke wilayah sekitar Bandung. Di Kabupaten Bandung Barat, misalnya, beberapa desa sudah menjalankan sistem bank sampah berbasis sekolah. Anak-anak SD diajarkan menabung sampah plastik, lalu hasilnya digunakan untuk membeli perlengkapan sekolah. “Biar sejak kecil mereka tahu, sampah itu punya nilai,” kata seorang guru di Lembang.
Sementara itu, di Kabupaten Bandung bagian timur, kelompok pemuda memanfaatkan bank sampah untuk mengumpulkan dana kegiatan olahraga. Sampah plastik yang terkumpul dijual, dan hasilnya dipakai membeli bola voli serta seragam tim. Dari sampah, lahir kebersamaan.
Menuju Bandung 100 Ritase
Meski banyak cerita inspiratif, tantangan Bandung masih besar. Setiap hari, ratusan ritase sampah diangkut ke TPA Sarimukti. Pemkot menargetkan, pada akhir 2025 hanya 100 ritase per hari yang dikirim. Caranya, dengan memperkuat gerakan Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan).
Bank sampah jelas jadi ujung tombak strategi ini. Jika tiap RW bisa mengelola 30% sampahnya sendiri, maka beban TPA akan jauh berkurang. “Kalau semua warga kompak, Bandung bukan hanya kota kreatif, tapi juga kota bebas sampah,” tegas seorang pejabat lingkungan dalam sebuah acara sosialisasi.
Penutup: Cerita Baru dari Kampungmu
Dari Bu Yayah di Sekeloa, Bu Rini di Bougenville, hingga anak-anak SD di Lembang, semua menunjukkan hal yang sama: bank sampah bukan sekadar soal sampah. Ia adalah cerita tentang kebersamaan, kreativitas, dan kemandirian.
Bayangkan kalau tiap RW punya kisah serupa. Bandung akan jadi kota yang lebih bersih, sehat, dan sejahtera. Jadi, kalau botol plastik atau kardus menumpuk di rumahmu, jangan buru-buru dibuang. Siapkan karung kecil, bawa ke bank sampah terdekat. Siapa tahu, cerita baru lahir dari kampungmu sendiri cerita tentang bagaimana sampah bisa jadi tabungan, dan tabungan jadi kebanggaan.


