5 C
New York
Senin, Desember 1, 2025

Buy now

spot_img

Indscript Creative Rayakan Milad ke-18 dengan Penuh Makna

Pada 30 Agustus 2025 lalu, Indscript Creative menggelar perayaan milad ke-18. Meski hari jadi Indscript Creative jatuh pada 8 September, perhelatan ini dipilih lebih awal agar bertepatan dengan momentum penting lainnya, yakni Milad Sekolah Perempuan ke-12 dan Milad Pensiunan Inspiratif ke-1 yang diperingati pada 17 Agustus.

Acara yang mengusung tema “Menebar Kebaikan Lewat Kata Penuh Makna” ini dihadiri sekitar 70 penulis dari berbagai daerah. Rangkaian kegiatan meliputi Talkshow Penulis Buku Antologi, Motivational Talk, Launching Buku, hingga peluncuran program Bookfluencer yang diharapkan dapat menjadi wadah baru bagi para penulis untuk terus berkarya.

Sejak pagi, suasana penuh semangat sudah terasa. Tepat pukul 09.00 WIB, acara resmi dibuka dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Bapak Dedy Tasdikin, acara kemudian berlanjut ke sesi sambutan dari berbagai tokoh, di antaranya ketua panitia, ketua umum Komunitas Pensiunan Inspiratif, Kepala Sekolah Perempuan, hingga Founder Indscript Creative yaitu Indari Mastuti.

Rangkaian acara semakin meriah dengan hadirnya Talkshow Penulis Buku Antologi, Motivational Talk, serta Launching Buku dan Program Bookfluencer. Semua kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen Indscript Creative dalam terus menghadirkan karya, memberdayakan penulis, serta menebarkan kebaikan lewat tulisan.

Pensiunan Inspiratif: Berbagi Kisah, Merajut Silaturahmi

Pada tanggal 17 Agustus lalu, sebuah komunitas yang penuh semangat dan makna bernama Pensiunan Inspiratif lahir di Hotel Savoy Homann, Bandung. Meski anggotanya didominasi oleh para pensiunan dari berbagai institusi, komunitas ini membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus berkarya, berbagi, dan menginspirasi. Pada acara milad tersebut, Ibu Lela S. Permana memaparkan program-program yang ada di Komunitas Pensiunan Inspiratif.

Ketua Pensiunan Inspiratif Ibu Lela S. Permana

Dari Paragraf Jadi Cerita Penuh Makna

Salah satu program unggulan Pensiunan Inspiratif adalah ODOS (One Day One Story). Program ini awalnya hanya berupa tantangan sederhana menulis satu paragraf per hari. Namun, siapa sangka, banyak anggota justru menuliskan kisah lebih panjang. Dari cerita-cerita itu lahirlah tulisan-tulisan yang bukan hanya penuh pengalaman, tetapi juga sarat inspirasi.

Bagi komunitas ini, menulis bukan sekadar menuangkan kata-kata, melainkan cara untuk berbagi ilmu, menyebarkan kisah, dan meninggalkan jejak yang bermanfaat bagi banyak orang.

Lebih dari Sekadar Menulis

Program lain yang tak kalah menarik adalah Pitching Each Other. Di sini, anggota diberi ruang bebas untuk berbagi pengetahuan, bukan hanya tentang kepenulisan. Ada yang menulis tentang fotografi, hospitality, bahkan CSR (Corporate Social Responsibility). Prinsip utamanya sederhana: berbagi tidak mengenal usia dan level. Semua anggota dipersilakan menyampaikan apa pun yang menurut mereka berharga untuk disharing.

Merajut Silaturahmi Antar-Institusi

Lebih dari sekadar ruang menulis, Pensiunan Inspiratif juga menjadi wadah silaturahmi antar-institusi. Hal ini terbukti dalam perayaan milad perdananya yang berhasil mempertemukan pensiunan dari berbagai lembaga. Kehangatan acara, saling berbagi kisah, dan semangat kebersamaan menjadikan momentum tersebut sangat berkesan.

Inspirasi yang Terus Hidup

Pensiunan Inspiratif menunjukkan bahwa pensiun bukan berarti berhenti berkarya. Justru pada fase ini, banyak hikmah dan pengalaman hidup yang bisa diwariskan. Dengan semangat menulis, berbagi, dan bersilaturahmi, komunitas ini mengajarkan bahwa inspirasi tidak pernah mengenal kata usai.

Sekolah Perempuan: Dua Belas Tahun Melahirkan Penulis dan Menggerakkan Perempuan

Dua belas tahun lalu, tepatnya sekitar tahun 2013, sebuah inovasi lahir di rumah Indari Mastuti. Inovasi itu bernama Sekolah Perempuan. Diadakan secara offline setiap akhir pekan selama tiga bulan, Sekolah Perempuan hadir sebagai ruang belajar menulis buku, sekaligus wadah perempuan untuk menemukan kekuatan dirinya.

Tak hanya sekadar belajar menulis, Sekolah Perempuan menjadi tempat lahirnya penulis-penulis perempuan produktif yang kini menghasilkan berbagai jenis buku—mulai dari fiksi, nonfiksi, hingga inspirasi kehidupan nyata.

Dari Rumah ke Ruang Lebih Luas

Perjalanan Sekolah Perempuan tentu tidak sendiri. Sejak awal berdiri, komunitas ini mendapat bimbingan dari para mentor yang mumpuni seperti Julie Nava, Indari Mastuti, Anna Farida, dan almarhumah Ida Fauziah. Kehadiran para mentor menjadikan Sekolah Perempuan bukan sekadar kelas menulis, melainkan ruang belajar yang menguatkan dari hati ke hati.

Kini, setelah berusia 12 tahun, Direktur Sekolah Perempuan yaitu Ibu Kartikowati Djoharijah, yang juga merupakan angkatan pertama, membawa semangat segar dalam memimpin. Dengan penuh kerendahan hati, beliau mengajak semua pihak untuk bergandeng tangan membesarkan komunitas.

Sekolah Perempuan Indscript Creative

Misi: Perempuan Produktif dari Rumah

Sejak awal, misi Sekolah Perempuan sederhana tapi kuat: meski di rumah, perempuan tetap bisa memiliki penghasilan. Prinsip ini menjadi ruh dari setiap program, agar perempuan mampu berkarya tanpa kehilangan peran utamanya di keluarga.

Menyongsong Masa Depan dengan Teknologi

Di usia ke-12, Sekolah Perempuan tidak berhenti berinovasi. Justru, komunitas ini berencana memperluas program dengan berkolaborasi bersama instansi, lembaga, hingga dinas. Lebih jauh lagi, Sekolah Perempuan juga mulai beradaptasi dengan teknologi AI—menyadari bahwa dunia kepenulisan dan pembelajaran harus terus sejalan dengan perkembangan zaman.

Dua belas tahun adalah perjalanan panjang. Dari sebuah ruang sederhana di rumah, kini Sekolah Perempuan menjelma menjadi wadah yang terus menggerakkan. Para penulis lahir, kisah-kisah inspiratif tercipta, dan perempuan semakin percaya diri bahwa mereka bisa produktif dari rumah.

Sekolah Perempuan adalah bukti nyata bahwa perempuan tidak pernah berhenti belajar, berkarya, dan menginspirasi.

Menulis, Berkarya, dan Memberdayakan Perempuan

Di tengah dinamika kehidupan modern, nama Indari Mastuti hadir sebagai sosok perempuan inspiratif yang menggabungkan peran sebagai penulis, pengusaha, dan penggerak komunitas. Perjalanan hidupnya menjadi bukti nyata bahwa perempuan dapat terus berkarya dan berdaya, meski berawal dari ruang sederhana di rumah.

Indari Mastuti founder Indscript Creative

Dari Menulis Menjadi Jalan Hidup

Indari Mastuti mengawali perjalanan suksesnya dengan menulis. Baginya, menulis bukan sekadar hobi, melainkan jalan hidup yang membuka banyak peluang. Dari menulis, ia menemukan jati diri, membangun jaringan, hingga merintis usaha yang memberi manfaat tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk orang lain.

Tulisan-tulisannya menginspirasi banyak pembaca, terutama para perempuan yang ingin produktif dari rumah. Ia menekankan bahwa menulis adalah sarana untuk membangun pikiran, menguatkan mental, dan sekaligus membuka pintu rezeki.

Perjalanan Indari Mastuti sebagai penulis dan penggerak komunitas perempuan telah berlangsung hampir dua dekade. Sejak tahun 2006 hingga kini di 2025, kiprahnya tidak hanya menghasilkan karya tulis, tetapi juga melahirkan berbagai komunitas, yayasan, hingga gerakan sosial yang berdampak luas.

Dari Buku ke Biografi Tokoh

Indari Mastuti mengawali kiprah menulis sejak tahun 2004 hingga di tahun 2005 bergabung dengan Kompas Gramedia Group. Dan pada tahun 2007, mendirikan perusahaan yang diberi nama Indscript Creative.

Indari Mastuti terus bergerak dan mengembangkan dirinya menjadi penulis biografi diantaranya tokoh-tokoh penting di Jawa Barat. Ia pernah dipercaya menulis kisah Ibu Atalia Ridwan Kamil, Ibu Siti Muntamah istri dari Wali Kota Bandung (Periode 2018-2021) Oded Muhammad Danial, serta almarhum Eril, putra Gubernur Ridwan Kamil. Karya-karya ini semakin meneguhkan posisinya sebagai penulis biografi yang piawai menggali cerita dengan sentuhan humanis.

Membangun Komunitas Perempuan Produktif

Tidak berhenti di dunia literasi, Indari melangkah lebih jauh dengan mendirikan komunitas yang fokus memberdayakan perempuan. Di komunitas ini, ribuan perempuan belajar menulis, berbisnis, dan mengasah keterampilan lain yang relevan dengan dunia digital.

Ia percaya bahwa setiap perempuan memiliki potensi besar untuk berkarya, hanya saja sering kali terhalang rasa takut dan kurangnya dukungan. Dengan komunitas, Indari ingin menghadirkan ruang aman bagi perempuan untuk bertumbuh bersama.

Tahun 2010, Indari mendirikan komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN), sebuah wadah perempuan untuk belajar menulis dan menerbitkan karya. Tiga tahun kemudian, ia memperkuat gerakan ini dengan membentuk Yayasan Sekolah Perempuan pada tahun 2013. Sekolah ini menjadi tempat perempuan belajar menulis sekaligus menemukan cara agar tetap produktif, meski berada di rumah.

Bertahan dan Berinovasi

Di sepanjang perjalanan perkembangannya, perusahaan sempat mengalami tantangan besar. Namun, alih-alih berhenti, Indari justru berinovasi yang memperluas dukungan bagi para perempuan. Dari sana lahirlah berbagai program, termasuk bookfluencer—sebuah terobosan untuk mendorong penulis dan anggota komunitasnya aktif di media sosial dalam menjual dan mempromosikan buku.

Mengusung Bisnis Syariah

Di usianya yang ke-18, Indscript Creative pun mulai fokus pada lini bisnis syariah. Ia melahirkan berbagai buku bertema syariah, meneguhkan komitmennya untuk menghadirkan karya yang tidak hanya inspiratif, tetapi juga sesuai dengan nilai-nilai Islami.

Terus Melangkah, Terus Menginspirasi

Kini, kiprahnya tidak berhenti di dunia menulis saja. Indari Mastuti juga meluncurkan website infoindscript yang menyajikan informasi seputar aktivitas dan program Indscript Creative. Salah satu kegiatan terbaru adalah Bank Sampah Bersinar di Bandung, sebuah inisiatif pengelolaan sampah yang menunjukkan kepeduliannya pada isu lingkungan.

Pena yang Tak Pernah Usai

Dari tahun 2006 hingga 2025, Indari Mastuti membuktikan bahwa perjalanan menulis bukan hanya soal menghasilkan buku. Lebih dari itu, menulis bisa menjadi gerakan, wadah pemberdayaan, hingga inspirasi sosial. Dengan semangat inovasi yang konsisten, ia terus mengajak perempuan untuk berani berkarya, berbagi, dan berkontribusi, meski dari rumah sekalipun

Motivational Talk: Menulislah Sampai Langit Tersentuh

Di balik setiap perjuangan seorang perempuan, selalu ada kisah yang layak dibagikan. Kisah Ibu Nurul Jannah adalah salah satunya. Sosok perempuan tangguh ini hadir bukan hanya sebagai seorang ibu dan anggota masyarakat, tetapi juga sebagai penggerak yang menyalakan semangat bagi sekelilingnya. Setiap tulisannya mampu menggugah dan menginspirasi pembacanya.

Menulis dengan Tinta Hati

Bagi Bu Nurul Jannah, menulis bukan sekadar hobi. Lebih dari itu, menulis adalah kebahagiaan yang luar biasa. Beliau percaya, ketika sebuah tulisan lahir dari hati lalu dihadirkan dengan tulus, maka cahaya tulisan itu bisa menembus langit dan menyapa banyak pembaca.

Pernah suatu waktu, Bu Nurul dikontak oleh seseorang yang membaca tulisannya. Orang itu mengaku hampir putus asa dan sempat ingin mengakhiri hidup. Tapi, setelah membaca tulisan Bu Nurul, ia menemukan secercah harapan untuk bertahan. Dari pengalaman itu, Bu Nurul semakin yakin: menulis bisa jadi jalan untuk menyelamatkan orang lain, bahkan di saat-saat yang paling kritis.

Itulah mengapa, ketika berbagi di Milad Indscript, Bu Nurul selalu mengingatkan bahwa komunitas ini adalah jembatan. Jembatan yang menghubungkan para penulis untuk terus berkarya dengan cara yang menyenangkan. Contohnya, ada seorang pensiunan yang kini justru menemukan waktunya lebih banyak untuk berkarya lewat tulisan. Menulis membuat hari-harinya lebih berarti dan penuh makna.

Lalu, bagaimana dengan kita yang masih sering minder atau ragu untuk mulai menulis? Bu Nurul punya tips sederhana tapi ampuh. Menurutnya, menulis itu sama seperti olahraga. Kalau jarang dilakukan, badan terasa kaku. Tapi kalau dilatih terus-menerus, lama-lama jadi terbiasa. Jadi jangan menunggu tulisan sempurna dulu, mulailah dengan langkah kecil.

Coba ubah mindset bahwa menulis itu menyenangkan, bahkan bisa jadi cara ampuh untuk melepas stres. Luangkan waktu minimal lima menit saja. Bisa lewat catatan kecil di ponsel, atau sekadar menuliskan unek-unek di buku catatan. Tidak perlu jauh-jauh mencari ide—tulislah sesuatu yang dekat dengan diri kita, yang sering ditemui, yang kita pahami. Dari hal-hal sederhana itulah tulisan akan lebih lancar dan mengalir.

Menulis juga bisa jadi media untuk mengabadikan perjalanan hidup. Bayangkan, ketika suatu saat kita membuka kembali catatan lama, ada kenangan yang bisa tersenyum kembali pada kita.

Dan yang paling penting, jangan pernah merasa minder. Tulisan yang bagus lahir dari jam terbang. Semakin sering berlatih, semakin terasah kualitasnya.

Di akhir talkshow, Bu Nurul menitipkan pesan yang begitu dalam: tulisan adalah hati dan nyawa yang akan sampai kepada langit. Karena itu, tulislah dengan tinta hati. Tulisan yang ditulis dengan hati akan menemukan jalannya sendiri—menyentuh, diterima, dan memberi makna bagi siapa saja yang membacanya.

Talkshow Penulis Buku Antologi/E-Book Menebar Kebaikan Lewat Kata Penuh Makna

Bagi sebagian orang, masa pensiun identik dengan berhenti bekerja, menikmati waktu di rumah, dan menjalani hari dengan tenang. Namun, bagi seorang perempuan inspiratif ini, pensiun justru menjadi awal dari perjalanan baru: perjalanan untuk belajar, berkarya, dan berbagi semangat dengan banyak orang.

talkshow-milad-indscript-creative

Dari Pegawai ke Penulis

Di sesi talkshow yang dipandu oleh Ibu Dini Masitah, hadir para penulis inspiratif yang tetap produktif berkarya di masa pensiun. Mereka adalah Ibu Kresna Tri Dewi penulis buku Merdeka Berpikir Merdeka Beraksi, Bapak Jupiter Pane penulis Pensiun Bukan Akhir Segalanya, Ibu Any Pudjiasuti penulis buku Meski Hati Penuh Luka Semangat Terus Menyala dan Ibu Arie Widowati penulis ebook Panduan Praktis untuk Ibu dan Ayah: Mempertumbuhkan Anak dengan Hati dan Ilmu.

Selepas masa tugasnya berakhir, banyak yang mengira pensiunan akan berhenti beraktivitas. Namun, justru bapak ibu pensiunan ini menemukan dunia baru yang membangkitkan semangatnya: dunia menulis. Bagi mereka, menulis adalah jendela untuk tetap hidup aktif, mengasah pikiran, sekaligus mengabadikan pengalaman yang ia jalani selama bertahun-tahun.

Meski tidak muda lagi, bapak ibu yang menginspirasi ini berani memulai dari awal. Setiap huruf, setiap kata, menjadi bukti bahwa usia tidak pernah bisa menghalangi seseorang untuk terus belajar.

Berkarya untuk Menginspirasi

Melalui tulisan-tulisan beliau, tidak hanya menorehkan kisah pribadi, tetapi juga memberikan pelajaran berharga untuk banyak orang. Kisahnya mengajarkan bahwa:

  1. Pensiun bukan akhir, melainkan awal babak baru.
  2. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar.
  3. Setiap orang punya kesempatan untuk memberi manfaat, kapan pun dan di mana pun.

Api Semangat yang Tak Pernah Padam

Kisah para pensiunan ini adalah bukti nyata bahwa semangat hidup tidak mengenal usia. Pensiun tidak harus menjadi titik akhir perjalanan, melainkan bisa menjadi pintu menuju babak baru yang lebih bermakna.

Dengan segala keterbatasan yang ia miliki, ia tetap berdiri tegak, menulis, berkarya, dan menyalakan inspirasi. Dari dirinya kita belajar bahwa hidup bukan tentang berapa lama kita menjalani waktu, melainkan seberapa bermakna kita mengisinya.

Penghargaan Penulis Inspiratif

Dalam acara Milad ke-18 ini, Indscript Creative juga memberi penghargaan kepada penulis senior yaitu Ibu Nining Prikasih. Di usianya yang ke-67 tahun, beliau telah menelurkan lebih dari 50 judul buku. Ibu Nining merupakan angkatan ke-3 Sekolah Perempuan dan kini dikenal sebagai penulis biografi andalan Indscript. Saat ini Bu Nining menjabat sebagai Direktur Copywring dan menangani perusahaan-perusahaan premium yang bekerja sama dengan Indscript.

Penghargaan kedua diberikan kepada Ibu Lela S. Permana sebagai Perempuan Penggerak. Beliau merupakan sosok yang mendorong para pensiunan karyawan Bank Indonesia untuk bergabung di Indscript, sehingga mereka tetap bisa berkarya dan produktif di masa pensiun mereka.

Indscript juga memberikan penghargaan kepada Amalia Maurizka sebagai Penulis Muda, Kreatif dan Inspiratif. Gadis difabel ini merupakan penulis artikel andalan di Indscript yang aktif menulis di tengah keterbatasannya. Kini Amalia sudah bisa mendapatkan honor dari menulis artikel.

penghargaan milad Indscript Creative

Donasi Untuk Guru

Perayaan Milad Indscript Creative kali ini terasa semakin bermakna dengan adanya kepedulian peserta yang hadir untuk berbagi. Salah satunya melalui program Donasi Guru Peduli yang berhasil menghimpun dana sebesar 4 juta rupiah sebagai wujud nyata dukungan terhadap dunia pendidikan.

Donasi untuk guru di acara Milad Indscript Creative

Doorprice

Rangkaian acara yang dimulai sejak pagi hingga pukul 14.00 WIB ini bertambah meriah karena peserta berkesempatan mendapatkan banyak doorprice yang menarik. Mulai dari souvenir buku, tanaman, voucher gym, hingga produk dari Ammar Kaayu.

doorprice dari Ammar kayu di Milad Indscript Creative

18 tahun perjalanan Indscript Creative ini bukan hanya sekedar waktu, tetapi merupakan bagian dari keteguhan foundernya dalam meneguhkan langkah. Meskipun ada beberapa ujian tetapi selalu ada cahaya-Nya yang selalu menguatkan. Indscript Creative bukan hanya wadah namun jalan dakwah melalui tulisan.

Selamat milad untuk Indscript Creative, Sekolah Perempuan dan Pensiunan Inspiratif. Di usia yang makin matang ini, semoga menjadi awal yang semakin kuat untuk menebar manfaat. Semoga setiap karya yang terlahir senantiasa menjadi cahaya yang menuntun pada ketaatan kepada Allah SWT. Aamiin.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles