Pagi itu, Bandung terasa seperti halaman buku yang baru dibuka. Jalan Asia Afrika masih lengang, udara sejuk mengalir, membawa aroma kopi dari kafe-kafe tua yang berjejer di sekitarnya. Namun di sudut ikonik kota ini, Hotel Savoy Homann berdenyut dengan semangat berbeda. Mobil dan taksi silih berganti menurunkan tamu-tamu yang mengenakan pakaian merah putih nan anggun. Balon-balon merah putih tersusun membentuk gerbang cantik, seolah menyambut semarak literasi yang akan mewarnai hari itu.
Sabtu, 30 Agustus 2025, lebih dari tujuh puluh penulis, perempuan penggerak, dan pegiat literasi berkumpul di hotel bersejarah ini untuk merayakan Milad Komunitas Pensiunan Inspiratif ke-1, Sekolah Perempuan ke-12, dan Indscript Creative ke-18. Bukan sekadar ulang tahun, acara ini adalah momen kebersamaan dan kemerdekaan yang diungkapkan lewat kata.
Memasuki Ruang Asia Afrika, suasananya seperti pesta keluarga besar. Busana merah putih berpadu dengan dekorasi bernuansa senada; meja-meja tertata rapi, panggung dihiasi ornamen megah, dan balon berwarna merah putih menyambut setiap tamu dengan keceriaan.
Tepat pukul 09.00, suara ceria MC Ike dan Nurul mengajak seluruh peserta berdiri menyanyikan Indonesia Raya. Lagu kebangsaan menggema lantang, memunculkan rasa haru dan bangga, di tengah suasana negeri yang saat itu dipenuhi demonstrasi dan suara rakyat dari berbagai penjuru. Di ruangan ini, lagu itu menjadi doa, pengingat bahwa kata-kata juga bisa menjadi alat perjuangan.
Doa pembuka yang dipimpin Pak Deky Tasdikin membawa keheningan syahdu. Sambutan demi sambutan pun mengalir. Pak Mulyono, Ketua Panitia, menyebut acara ini “momentum syukur dan titik tolak baru untuk menebar manfaat.” Bu Lela S. Permana, Ketua Komunitas Pensiunan Inspiratif, menegaskan komunitas ini adalah rumah bagi penulis lintas usia. Dari Sekolah Perempuan, Bu Kartikowati menyampaikan pesan teduh “Perempuan yang menulis, sesungguhnya sedang menorehkan sejarah.”
Puncak suasana hangat terasa saat Teh Indari Mastuti, pendiri Indscript Creative, maju memotong tumpeng. Namun tumpeng itu bukan sekadar simbol, karena kisah hidupnya adalah inspirasi tersendiri. Berawal dari perjuangan seorang perempuan muda dengan mimpi besar, Teh Indari membangun Indscript hingga menjadi rumah bagi ribuan penulis. Ia meluncurkan buku Writing Innovation sebagai panduan menulis, serta menggagas komunitas Book Influencer untuk mendidik penulis agar bisa mempromosikan dan menjual karya, sekaligus mengembangkan bakat diri. “Potongan tumpeng ini adalah doa kita semua,” ujarnya. “Janji untuk terus menyalakan cahaya lewat kata.” Tepuk tangan bergema, kamera mengabadikan momen ini sebagai catatan sejarah literasi.
Puisi karya Ibu Lusijani yang dibacakan penuh penghayatan membuat ruangan hening. “Menulis adalah cahaya, menulis adalah doa, menulis adalah jejak yang tak pernah padam…” Banyak mata berkaca-kaca, larut dalam makna setiap baitnya.
Sesi Motivational Talk pun menggetarkan hati. Nurul Jannah bercerita tentang kekuatan sebuah kata, bagaimana tulisan sederhana bisa menyelamatkan seseorang dari keputusasaan. “Menulis itu ibadah,” ujarnya, “Satu kata dari hati bisa menjadi doa, obat, bahkan cahaya yang sampai ke hadapan Allah.” Moderator Sempa Arih memandu sesi ini dengan hangat, menjadikan pesan Nurul membekas di hati semua yang hadir.
Cerita inspiratif mengalir dari peserta lain: ada yang kembali semangat setelah membaca sebuah buku, ada pula yang tergerak berkarya karena status sederhana di media sosial. Tekad bersama lahir: menulis meski hanya satu paragraf sehari, karena kata-kata adalah “bahasa bersayap” yang mampu menjangkau hati siapa pun. Sesi ini ditutup dengan penggalangan donasi untuk guru-guru di pelosok negeri, simbol nyata bahwa literasi bisa menumbuhkan kepedulian sosial.
Tawa pun memenuhi ruangan ketika peserta diajak bermain Games Join My Quiz. Sorakan dan gelak tawa membuat suasana pagi itu sempurna: penuh haru, makna, dan keceriaan.
Acara dilanjutkan dengan Talkshow Inspiratif yang menghadirkan Kresna Tri Dewi, Jupiter Pane, Any Pudjiastuti, dan Arie Widowati. Mereka berbagi pengalaman jatuh bangun menulis, suka duka menerbitkan karya, dan arti berbagi inspirasi. Menurut Bu Kresna, “dengan menulis, maka ilmu yang kita miliki dapat tersalurkan kepada mereka yang membutuhkan”. Sementara Pak Jupiter menyebutkan “Masa pensiun adalah masa berbagi pengalaman hidup lewat tulisan,” Bu Any menambahkan, “Menulis adalah cara melepas beban hati.” Sedangkan narasumber terakhir, Bu Arie menegaskan pentingnya menanamkan kepercayaan, bukan ketakutan, dalam mendidik anak. Tepuk tangan panjang menggema, menandai bahwa pesan mereka telah menyentuh hati banyak orang. Talkshow ini ditutup dengan peluncuran buku dan e-book karya anggota komunitas, menambah semangat literasi.
Sorak sorai semakin meriah ketika sesi Awarding dimulai. Penghargaan diberikan kepada penulis senior, perempuan penggerak inspiratif, hingga penulis muda berbakat. Saat nama Amalia disebut, seorang penulis penyandang disabilitas yang telah menulis buku solo, suasana berubah haru. Ia maju dengan langkah gemetar dan berkata lirih, “Saya hanya menulis dari hati.” Seisi ruangan terdiam, banyak yang menunduk dan mengusap air mata.
Acara pun diakhiri dengan santap siang bersama. Aroma lontong opor, sambal goreng ati, dan kerupuk renyah khas Savoy Homann memenuhi ruangan, menciptakan suasana seperti lebaran. Peserta bercengkerama, bertukar kartu nama, dan berfoto bersama, mengabadikan momen ini dalam hati dan bingkai kenangan.
Hari itu, di bawah kibaran merah putih, Savoy Homann menjadi saksi perjalanan kata, doa, dan cinta. Temu Komunitas Penulis membuktikan bahwa usia hanyalah angka; semangat berkarya tak pernah padam. Para peserta pulang dengan hati penuh syukur, kepala sarat ide, dan tekad untuk terus menulis, berbagi, serta menyalakan cahaya lewat kata-kata.
“Dalam dunia tulis-menulis, setiap kata adalah biji yang kita tanam. Ada yang tumbuh menjadi harapan, ada yang menjelma doa, ada pula yang menjadi cahaya untuk orang lain. Teruslah menulis, meski hanya satu kata sehari, karena tulisan yang lahir dari hati akan menemukan jalannya: menyentuh jiwa, mengubah hidup, bahkan menyalakan semangat generasi berikutnya.”


