8.3 C
New York
Senin, Maret 9, 2026

Buy now

spot_img

Tuliskan dan Wujudkan Mimpi

Alhamdulillah, dalam dua hari ini (di hari Sabtu dan Minggu) saya mendapatkan kesempatan yang sangat berharga: tiga kegiatan untuk mendorong terwujudnya mimpi.

Dua kegiatan diselenggarakan oleh PUSPA (Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak) dan satu kegiatan oleh Yayasan Hamalatul Qur’an. Kedua organisasi tersebut dipimpin oleh guru saya, Teh Salmiah Rambe, yang selama ini terus mendorong lahirnya berbagai kegiatan yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, saya berbagi tentang bagaimana membuat “peta mimpi” kepada para audiens. Dari sekitar seratus lima puluh peserta yang hadir di tiga kegiatan, ternyata 99 persen mengaku belum pernah menuliskan mimpi mereka.

Saya akhirnya menyimpulkan bahwa banyak orang memiliki harapan dan keinginan, tetapi semuanya hanya tersimpan di dalam kepala.

PUSPA (Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak)

Saya kemudian berbagi cerita perjalanan saya sendiri. Bahwa keinginan menjadi penulis sebenarnya sudah muncul sejak kelas 4 SD lalu saya tuliskan. Bisa jadi karena dituliskan mimpi sederhana itu terus hidup dalam diri saya hingga hari ini.

Aktivitas menulis tidak pernah hilang dalam perjalanan hidup saya. Bahkan ia bermetamorfosis: dari penulis artikel, menjadi penulis buku, hingga akhirnya menjadi pengusaha di bidang jasa penulisan melalui Indscript, dengan tagline “Sahabat Mewujudkan Mimpi.” Saya meyakini bahwa perjalanan itu terjadi karena mimpi yang dituliskan lalu terus menerus dilihat mata tulisannya lalu akhirnya tertanam kuat di dalam mindset dan alam bawah sadar saya.

Dalam sesi tersebut, para peserta saya ajak untuk mulai mewujudkan mimpi secara nyata. Mereka dibekali dengan spidol dan kertas besar, lalu diminta menuliskan mimpi-mimpi mereka. Dari situ mereka mulai membuat peta mimpi—sebuah peta yang menggambarkan apa yang ingin mereka capai dalam hidup.

Menariknya, beberapa peserta dari kalangan anak-anak bahkan langsung memvisualisasikan mimpi mereka melalui gambar. Ini menjadi contoh yang sangat indah. Karena memang itulah yang saya ajarkan: mimpi tidak hanya ditulis, tetapi juga divisualisasikan.

Kita bisa bertumbuh karena harapan, dan harapan akan menjadi lebih kuat ketika dituliskan dan divisualisasikan.

PUSPA (Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak)

Dalam kegiatan ini juga dilibatkan Naisar Forest Garden, yang turut berkontribusi dengan menghadirkan hasil bumi sebagai bagian dari sembako yang dibagikan kepada peserta. Ini menjadi bentuk sinergi antara kegiatan pemberdayaan, edukasi, dan dukungan terhadap produk lokal.

Terima kasih kepada PUSPA dan Yayasan Hamalatul Qur’an yang telah mengundang saya untuk bertemu dengan lebih dari 150 orang peserta. Semoga pertemuan ini menjadi awal bagi mereka untuk mulai mengejar mimpi-mimpi besar dalam hidup mereka.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles