
infoindscript.com – Depok, 25 Februari 2026
Dalam surah Al Isra 17, ayat 70, Allah Ta’ala sesungguhnya ingin memudahkan hamba untuk memudahkan penghambaan dengan memfasilitasinya dengan rezeki dan kesempurnaan, melalui akal.
Akal dapat memiliki kemampuan untuk berpikir yang berakhir dengan keputusan baik buruk, benar salah, dosa pahala, atau manfaat mudharat. Di saat akal tidak dipakai, kita akan salah berpikir dan salah memutuskan karena tidak otomatis manusia bisa langsung beriman dengan akal itu.
Allah Ta’ala pun memberi bekal berikutnya yaitu pertanyaan besar dan mendasar yang akan membuat manusia dapat rangsangan untuk berpikir. Ketika pertanyaan-pertanyaan itu terjawab, manusia itu akan beriman dan tenang, serta berislam dengan akal, bukan perasaan.
Uqdatul Qubro atau pertanyaan mendasar, yaitu Darimana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? dan Akan kemana kita setelah meninggal nanti?
Ketika masih anak-anak pun pertanyaan ini sudah diutarakan, hanya ukuran pemikirannya masih terbatas sesuai perkembangan informasi dan fakta yang diterimanya. Semakin dewasa, ada perkembangan atas akalnya yang kemudian menghasilkan aqidah.
Apakah dengan dua bekal sudah otomatis manusia beriman dan bahagia? Ternyata tidak! Di dunia berdasarkan data hanya 2 miliar orang saja yang beriman. Oleh sebab itu, Allah berikan lagi bekal selanjutnya, Irsyad wal Bayan, yaitu petunjuk dan penjelasan.
Petunjuk itu dibawa oleh nabi dan rasul. Sesungguhnya ada pendapat yang mengatakan ada kurang lebih 124 ribu nabi dan rasul. Namun, Allah Ta’ala hanya meminta kita menghafal 25 di antaranya. Mereka adalah utusan yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hadir di umat.
Sesungguhnya, dari petunjuk-petunjuk Allah Ta’ala adalah Al Quran. Dalam surah Ta-Ha 20, ayat 2, dikatakan bahwa diturunkannya Al Quran sesungguhnya tidak untuk membuat Rasulullah susah, alias senang. Tahapan-tahapan hidup Allah Ta’ala sampaikan di sana. Namun, apakah manusia sudah membaca dan memahaminya?


