
Lelah tak hanya menyerang tubuh, dia juga membuat mental lemah
Jam menunjukkan pukul 23.00. Dina baru saja sampai di kos setelah seharian kerja pagi dan kuliah malam. Tubuhnya lelah, tetapi tugas kuliah masih menumpuk di meja. Matanya mulai berair, tidak hanya karena kantuk, tetapi juga beban yang terasa semakin berat di pundak. “Kenapa rasanya tidak ada waktu untuk bernapas?” bisiknya pelan. Cerita Dina adalah potret ribuan mahasiswa pekerja di Indonesia yang menjalani kuliah malam sambil bekerja di siang hari. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang meraih pendidikan sambil mencari nafkah. Namun di balik perjuangan tersebut, ada harga yang harus dibayar: kesehatan mental yang terancam. Stres, kecemasan, burnout, bahkan depresi menjadi momok yang mengintai. Pertanyaannya: bagaimana cara mengelola stres dan menjaga kesehatan mental di tengah rutinitas yang sangat padat ini?
Memahami Tantangan Mental Mahasiswa Pekerja
Mahasiswa yang kuliah malam sambil bekerja menghadapi tekanan berlipat ganda dibanding mahasiswa reguler. Di tempat kerja, mereka dituntut profesional dan produktif. Di kampus, mereka harus mengikuti perkuliahan dengan konsentrasi penuh meski tubuh sudah lelah seharian bekerja. Belum lagi tuntutan menyelesaikan tugas, menghadapi ujian, dan mempertahankan IPK yang baik.
Waktu istirahat yang minim membuat tubuh tidak punya kesempatan untuk recovery. Tidur sering terpotong karena harus mengerjakan tugas hingga larut malam. Akibatnya, fisik dan mental bekerja dalam kondisi overload terus-menerus.
Kehidupan sosial juga sering terganggu. Tidak ada waktu untuk berkumpul dengan teman, menjalani hobi, atau sekadar bersantai. Isolasi sosial ini bisa memperparah perasaan kesepian dan stres. Belum lagi guilt feeling karena merasa tidak bisa menjalankan peran dengan maksimal, baik sebagai karyawan maupun mahasiswa.
Tanda-Tanda Stres yang Perlu Diwaspadai
Gejala Fisik
Tubuh adalah indikator pertama ketika stres sudah berlebihan. Sakit kepala yang sering muncul, gangguan pencernaan, nyeri otot terutama di punggung dan leher, serta penurunan sistem imun yang membuat mudah sakit adalah sinyal bahwa tubuh sedang overwhelmed.
Perubahan pola tidur juga menjadi penanda penting. Insomnia atau sebaliknya, tidur berlebihan sebagai bentuk escapism, keduanya menunjukkan ketidakseimbangan mental. Nafsu makan yang berubah drastik, entah kehilangan selera atau malah makan berlebihan, juga merupakan respons tubuh terhadap stres.
Gejala Emosional dan Mental
Mudah marah atau tersinggung, merasa cemas berlebihan, kehilangan motivasi, dan perasaan hampa adalah gejala emosional yang tidak boleh diabaikan. Jika mulai merasa bahwa semua usaha tidak ada artinya atau muncul pikiran untuk menyerah, ini adalah red flag yang serius.
Kesulitan konsentrasi, sering lupa, dan penurunan performa akademik maupun kerja juga menandakan mental sedang tidak baik. Jangan anggap remeh gejala-gejala ini karena bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius seperti burnout atau depresi.
Strategi Mengelola Stres dengan Efektif
- Prioritaskan dan Kelola Waktu dengan Realistis
Tidak semua hal harus dikerjakan sempurna. Belajarlah untuk memprioritaskan tugas berdasarkan deadline dan tingkat kepentingan. Gunakan metode Eisenhower Matrix untuk membagi tugas menjadi empat kuadran: penting-mendesak, penting-tidak mendesak, tidak penting-mendesak, dan tidak penting-tidak mendesak.
Fokuskan energi pada kuadran pertama dan kedua. Untuk kuadran ketiga, delegasikan jika memungkinkan atau kerjakan dengan effort minimal. Kuadran keempat? Eliminasi saja. Jangan habiskan waktu dan energi untuk hal yang tidak penting dan tidak mendesak.
Buat jadwal yang realistis dengan memperhitungkan waktu istirahat. Jangan overcommit atau mengambil terlalu banyak tanggung jawab. Belajar mengatakan “tidak” adalah skill penting untuk menjaga kesehatan mental.
- Jaga Kualitas Tidur Meski Waktu Terbatas
Tidur adalah fondasi kesehatan mental dan fisik. Meski waktu terbatas, usahakan tidur minimal 6 jam setiap malam. Kualitas tidur lebih penting daripada kuantitas. Ciptakan sleep hygiene yang baik: matikan gadget 30 menit sebelum tidur, atur suhu ruangan yang nyaman, dan hindari kafein di sore hari.
Jika memungkinkan, manfaatkan waktu istirahat di kantor atau jeda antara kerja dan kuliah untuk power nap 15-20 menit. Short nap terbukti efektif merefresh otak dan meningkatkan produktivitas.
- Tetap Jaga Aktivitas Fisik
Olahraga sering menjadi hal pertama yang dikorbankan ketika waktu terbatas. Padahal, aktivitas fisik adalah stress reliever alami yang sangat efektif. Olahraga melepaskan endorfin yang membuat mood membaik dan mengurangi hormon stres kortisol.
Tidak perlu olahraga berat atau lama. Cukup 20-30 menit sehari sudah sangat bermanfaat. Bisa berupa jalan cepat saat istirahat makan siang, naik tangga alih-alih lift, atau workout ringan di rumah sebelum tidur. Konsistensi lebih penting daripada intensitas.
- Jangan Isolasi Diri
Meski waktu terbatas, tetap jaga koneksi dengan support system. Luangkan waktu quality time dengan keluarga atau teman, meski hanya video call singkat. Berbagi cerita dan keluh kesah dengan orang yang dipercaya bisa sangat meringankan beban mental.
Bergabung dengan komunitas mahasiswa pekerja bisa memberikan sense of belonging dan saling support. Berbagi pengalaman dengan orang yang menghadapi situasi serupa membuat merasa tidak sendirian dalam perjuangan ini.
Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional
Jangan ragu mencari bantuan profesional jika stres sudah tidak tertahankan. Jika gejala stres mengganggu fungsi sehari-hari, berlangsung lebih dari dua minggu, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera hubungi psikolog atau konselor.
Banyak kampus menyediakan layanan konseling gratis untuk mahasiswa. Manfaatkan fasilitas ini tanpa malu atau merasa lemah. Mencari bantuan adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan. Ada juga layanan konseling online seperti Riliv, Kalm, atau Into The Light yang lebih fleksibel untuk jadwal padat.
Kesimpulan
Menjadi mahasiswa pekerja yang kuliah malam memang bukan perjalanan mudah. Tekanan berlipat ganda dan risiko terhadap kesehatan mental sangat nyata. Namun dengan strategi manajemen stres yang tepat, journey ini bisa dijalani tanpa harus mengorbankan kesehatan mental. Ingatlah bahwa kesehatan mental adalah prioritas utama, bukan pilihan sekunder. Tidak ada kesuksesan akademik atau karier yang worth it jika harus dibayar dengan breakdown mental. Belajarlah untuk lebih penyayang pada diri sendiri, terima keterbatasan, dan rayakan setiap pencapaian sekecil apapun. Kamu sudah sangat kuat menjalani semua ini, dan kamu deserve untuk bahagia dan sehat, secara fisik maupun mental. Keep fighting, tapi jangan lupa untuk tetap menjaga dirimu sendiri.


