2.6 C
New York
Jumat, Januari 16, 2026

Buy now

spot_img

Ibu Tangguh, Keluarga Kuat, Indonesia Bermartabat

Diramu dari penjelasan: Ibu Siti Muntamah

Pertemuan ini lahir dari satu kesadaran besar:
bahwa masa depan Indonesia tidak sedang ditentukan di ruang-ruang kekuasaan semata, melainkan di dalam rumah-rumah—di hati para ibu, di ketahanan keluarga, dan di kualitas relasi manusia.

Di tengah bonus demografi menuju 2045, Indonesia sesungguhnya dianugerahi kekayaan luar biasa: sumber daya alam yang melimpah, tanah yang subur sepanjang tahun, dan posisi strategis dunia dalam sektor pangan, energi, dan keuangan.

Namun semua potensi itu tidak akan menjadi keberkahan jika manusianya rapuh—secara mental, emosional, dan spiritual.

Karena itu, pertemuan bersama para tokoh dan pejuang perempuan di hari Ibu ini menegaskan satu hal penting: ibu bukan hanya urusan domestik, dan perempuan bukan sekadar objek kebijakan. Ibu adalah arsitek peradaban.

Melalui refleksi Hari Ibu, sosialisasi Empat Pilar MPR RI, dan penguatan kebijakan Ketahanan Keluarga—termasuk Perda Ketahanan Keluarga di Jawa Barat—kita diajak memahami bahwa pembangunan sejati harus berangkat dari keluarga.

Negara tidak cukup membangun kota dan desa; negara harus memastikan keluarga di dalamnya bahagia, sehat, dan berdaya.

Pertemuan ini juga menjadi ruang kejujuran:
bahwa tingginya angka stunting, perceraian, dan masalah kesehatan mental bukan sekadar data, melainkan tanda bahwa banyak ibu sedang lelah, banyak keluarga sedang rapuh, dan banyak anak sedang bertumbuh tanpa dukungan utuh.

Pesan utamanya sederhana namun mendalam: Ibu jangan sakit mental. Bukan dengan menekan diri, bukan dengan memendam keluh, tetapi dengan membangun circle yang saling menguatkan, berhenti mengeluh tanpa solusi, dan bergerak bersama dalam satu vibrasi kebaikan.

Ibu tangguh adalah ibu yang belajar berdamai dengan keterbatasan, mencari solusi secara kolektif, dan memaknai hidup sebagai ibadah.

Aktivitas-aktivitas sederhana namun bermakna—seperti berkebun, berbagi ilmu, menjaga kesehatan, dan menguatkan spiritualitas—menjadi jalan membebaskan diri dari keluhan, menurunkan kegelisahan mental, dan mengubah luka menjadi cahaya.

Pertemuan ini juga ditutup dengan doa dan harapan besar: agar para ibu melahirkan generasi yang bersih akhlaknya, kuat jiwanya, dan amanah dalam memimpin negeri.

Ibu kuat, keluarga akan kokoh. Ketika keluarga kokoh, masyarakat akan berdaya, dan ketika masyarakat berdaya, Indonesia akan berdiri dengan martabat.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles