-0.7 C
New York
Jumat, Januari 16, 2026

Buy now

spot_img

Ketika Demokrasi Dijelaskan Dengan Nurani

Kemarin, saya hadir dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang disampaikan kepada para tokoh Jawa Barat.

Di ruang itu, saya mendengarkan dengan sungguh-sungguh penjelasan Ibu Ledia Hanifa—bukan sekadar sebagai wakil rakyat, tetapi sebagai seorang pendidik demokrasi.

Yang saya tangkap, ini bukan tentang menang atau kalah dalam politik. Ini tentang kemenangan akal sehat dan nurani bangsa untuk menjawab persoalan-persoalan nyata masyarakat.

Ibu Ledia menegaskan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi yang berdiri di atas hukum, bukan kekuasaan yang sewenang-wenang, bukan pula suara mayoritas yang menindas, tetapi sistem yang mengatur agar keadilan bisa dijaga.

Pasal 1 ayat 3 UUD NRI Tahun 1945 menjadi penegasan: Indonesia adalah negara hukum. Maka setiap kebijakan, setiap keputusan, setiap pemimpin, harus tunduk pada aturan yang disepakati bersama.

Beliau juga mengingatkan bahwa negara ini tidak lahir dari ruang kosong. Indonesia didirikan oleh para ulama dan tokoh bangsa yang memadukan iman, ilmu, dan keberanian. Warisan itu bukan untuk dipajang, tetapi untuk dijaga. Caranya bukan dengan nostalgia, melainkan dengan menghadirkan sumber daya manusia terbaik ke ruang-ruang politik.

Masalah bangsa hari ini bukan hanya soal siapa yang berkuasa, tetapi apakah rakyat memahami kewenangan negara dan peran lembaga-lembaganya. Ketika literasi politik rendah, masyarakat mudah diseret emosi, mudah dipecah, dan sulit diajak menyelesaikan masalah bersama. Karena itu, edukasi politik bukan urusan elite semata. Ini urusan kita semua.

Ibu Ledia juga menekankan pentingnya komunikasi politik yang sehat. Media seharusnya menjadi jembatan pemahaman, bukan alat provokasi. Apa yang diputuskan negara harus bisa dijelaskan kepada rakyat dengan bahasa yang membumi, agar masyarakat tahu: kebijakan ini hadir untuk menjawab persoalan apa, dan untuk kepentingan siapa.

Saya pulang dari kegiatan ini dengan satu kesadaran penting: demokrasi bukan panggung sorak-sorai lima tahunan, tetapi proses panjang mendidik bangsa.

Kemenangan sejati bukan milik kelompok atau partai, melainkan kemenangan rakyat ketika masalahnya benar-benar diselesaikan karena itu, apa yang saya dengar hari ini saya sampaikan ulang. Agar masyarakat tahu, agar tidak mudah terombang-ambing, agar kita semua bergerak dan menggerakkan.

Mari kita jaga warisan pendahulu, sambil menyiapkan masa depan yang lebih adil dan beradab.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles