Saat anak menangis, kita mengucapkan “jangan menangis” biasanya karena ingin menghilangkan rasa sakit, takut, atau stres yang mereka alami.
Namun, saat orang tua meminta anak untuk menghentikan tangisannya, itu justru bisa menghentikan proses emosi yang sedang mereka alami.

Mereka bisa merasa bahwa menangis itu tidak boleh dan mereka tidak boleh mengekspresikan rasa emosinya.
Menurut seorang terapis spesialis anak-anak Kelsey More dilansir dari cnbc.com yang sering mendengar situasi seperti ini.
Ada alternatif kalimat yang bisa digunakan sebagai pengganti yaitu:
1. Aku bersamamu menenangkan diri.
Ini membuat anak merasa bahwa apa yang mereka rasakan adalah hal yang wajar.
Anda bisa dipercaya untuk mendukung dan membantu mereka melewati masa sulit.
2. Air matamu kulihat.
Memahami reaksinya bukan berarti sepenuhnya setuju. Menyampaikan, “Aku melihatmu,” menunjukkan bahwa perasaannya nyata dan valid.
Anda bisa menambahkan, “Kamu sedang kesal ya?” jika sesuai dengan situasi.
3. Perasaanmu itu wajar
Kita perlu memahami bahwa perasaan yang mereka alami adalah sesuatu yang wajar.
Merasakan sakit, merasa sendiri, atau tertekan adalah bagian dari kehidupan.
Ketika kita mengatakan “jangan menangis”, anak akan merasa bahwa apa yang mereka rasakan berlebihan dan tidak pantas untuk diekspresikan.
4. Sedih itu hal yang normal
Dengan mengatakan “kalau sedih itu wajar”, anak akan belajar mengenali dan mengelola emosinya.
Menangis karena sedih, marah, atau kesepian adalah hal yang normal. Mereka belajar memahami ketidaknyamanan emosional yang sedang mereka alami dan menemukan cara untuk mengatasinya.
5. Menangis adalah cara sehat untuk melepaskan perasaan
Menangis adalah salah satu cara alami dan sehat untuk melepaskan emosi serta mengungkapkan apa yang sedang dirasakan.
Tugas kita adalah mendampingi mereka melewati tantangan dan kesedihan, bukan menahannya.
6. Dengan menangis, anak belajar bahwa mereka tidak sendirian
Saat orang tua hadir dan mendengarkan tanpa menghakimi, anak merasakan dukungan dan kenyamanan.
Mereka belajar bahwa perasaannya penting dan ada tempat aman untuk kembali ketika merasa kesulitan.
Hal ini membangun kepercayaan diri dan kecerdasan emosional yang kuat sejak dini.
Penutup
Menanamkan keberanian anak untuk merasakan, mengekspresikan, dan memahami emosinya adalah hadiah terbaik yang bisa diberikan orang tua. Mulai hari ini, mari memilih kata-kata yang lebih lembut dan penuh empati. Karena dari kata-kata sederhana, anak belajar bahwa dirinya berharga, didengar, dan dicintai apa adanya.
Referensi:
cnbc.com, Stop saying ‘don’t cry’—to raise confident, emotionally intelligent kids, use these 5 phrases instead, Mora Kelsey, tanggal akses 24 november 2025


