Dalam perjalanan rumah tangga saya bersama istri, saya sering melihat kekurangan, kesalahan, atau hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan.
Dulu, saya pikir itu wajar untuk ditegur keras tapi tidak saya lakukan karena saya memahami bahwa saat saya melihat banyak kekurangan pada istri, itu bukan alasan untuk menyalahkan. Itu justru tanda bahwa Allah sedang menitipkan amanah untuk saya bimbing.
Sejak akad terucap, sejak tangan walinya (saat itu kakak tertuanya karena ayah istri sudah meninggal) diserahkan kepada saya, sejak saat itu tanggung jawab penuh berpindah ke saya maka saya tidak ingin menghakimi, tapi memperbaiki dengan kasih sayang.
Guru saya pernah berkata:
“Salahnya istri bukan bahan untuk marah. Itu cermin tanggung jawab suami.” Ucapan itu menghantam saya pelan-pelan… tapi tepat di hati. Maka saya belajar…
Langkah pertama suami bukan memarahi—tapi berdoa. Doa yang lembut, yang terus diulang, yang membolak-balikan hati,
karena yang mengubah hati bukan suara keras, tapi izin Allah.
Langkah kedua: menjadi teladan.
Istri lebih mudah tersentuh oleh contoh nyata daripada ribuan nasihat. Bagaimana saya memperlakukan orang tua, bagaimana saya menjaga ibadah,
bagaimana saya bersikap kepada anak—semuanya memberi warna pada dirinya.
Langkah ketiga: dakwah dengan hikmah.
Bercerita, menjelaskan pelan-pelan, mengambil kisah dari Qur’an dan hadis tanpa menggurui dan di tengah proses itu, yang paling harus saya jaga adalah emosi saya sendiri.
Setiap kali istri salah, saya belajar untuk bertanya pada diri sendiri:
“Apakah ini karena saya kurang bimbingan? Apakah saya kurang jelas memberi arahan?”
Pertanyaan itu membuat hati saya lebih tenang. Tidak memantul, tidak melawan, tidak mengeras. Saya belajar untuk menjadi kapas, bukan bola besi.
Hidup ini hanya beberapa puluh tahun kalau tujuan kami adalah masuk surga bersama, maka memperbaiki keluarga harus dilakukan dengan cara yang paling lembut, paling syariah, dan paling penuh cinta.
Dan saya mulai melihat, ketika suami menjalankan perannya dengan benar, Allah memperbaiki istri, rumah tangga, dan hati kami sedikit demi sedikit, penuh hikmah, penuh pertolongan.


