Pagi itu, Kedai Gaza menyambut hari dengan cara yang berbeda. Cahaya matahari menembus jendela kaca dan jatuh lembut di atas meja-meja kayu, seolah ikut menenangkan hati siapa pun yang hadir. Dari dapur, aroma masakan para ibu yang bekerja di bawah pemberdayaan Imah Seuri memenuhi udara. Di antara kesibukan itu, anak-anak yatim binaan Imah Seuri sudah duduk sejak pagi, memegang pena dengan wajah serius.
Mereka mulai menulis sebelum siapa pun datang. Menulis tentang ayah, sosok yang mungkin tak lagi mereka lihat, tak lagi mereka dengar suaranya, tetapi tetap hidup di tempat yang paling sunyi: hati.
Sepanjang pagi, goresan-goresan kecil itu terus mengalir. Ada yang menulis dengan cepat, seolah tak ingin kehilangan ingatan yang mungkin tinggal sedikit. Ada yang menulis sambil menahan napas, menahan rasa yang belum tentu sempat mereka pahami di usia mereka. Ada pula yang menatap kertas lama sekali sebelum menuliskan satu kata pun, karena bagi sebagian dari mereka, “ayah” hanya dapat mereka bayangkan, bukan mereka kenang.
Di tengah suasana itu, berdiri sosok yang menjadi pelindung dan penguat bagi mereka: Kang Zae Hanan (Achmad Zainudin). Seorang ustadz, motivator, pakar public speaking, pembimbing karakter, dan lebih dari itu, ayah bagi anak-anak yang kehilangan ayah.
Cinta Kang Zae kepada anak-anak yatim bukan sekadar kewajiban moral atau sosial. Itu adalah cinta yang tumbuh dari iman. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik rumah di antara kaum muslimin adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik.” (HR. Ibnu Majah)
Dan hari ini, Imah Seuri adalah salah satu rumah terbaik itu.
Kang Zae mendampingi mereka menulis, memberi semangat, mendoakan dalam diam. Ia bukan ayah kandung mereka, tetapi ia adalah ayah yang Allah kirimkan untuk menutupi kehilangan mereka. Ia membangun rumah, membangun jiwa, membangun harapan. Bahkan ia memberdayakan para ibu mereka, hingga berdirilah Kedai Gaza, usaha kuliner kecil dengan menu artistik yang kini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga-keluarga yatim ini.
Menjelang siang, masuklah sosok yang sangat ditunggu di Kedai Gaza, Bunda Indari Mastuti, Seorang perempuan yang hidupnya dipersembahkan untuk literasi dan pemberdayaan. Aura semangatnya seakan menyapu seluruh ruangan ketika ia datang.
Anak-anak segera berkumpul untuk menerima materi darinya. Hari itu, Bunda Indari tidak berbicara tentang teknik menulis yang rumit. Tidak. Ia berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dekat dengan hati mereka yaitu menuliskan rasa syukur, menuliskan mimpi, dan menuliskan ikhtiar untuk mencapainya.
Suasananya berubah. Ada cahaya kecil yang mulai menyala di mata anak-anak itu. Mereka mendengar dengan sungguh-sungguh, seakan menemukan ruang baru dalam diri mereka untuk memulai hidup dengan cara yang lebih berani. Firman Allah terngiang:
“Dan nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.” (QS. Ad-Dhuha: 11)
Menulis adalah salah satu cara mereka menjaga rasa syukur, menjaga harapan, menjaga mimpi.
Setelah materi selesai, Kang Zae menyerahkan kumpulan tulisan anak-anak tentang ayah kepada Bunda Indari. Ia diminta menjadi juri. Dengan penuh kelembutan, Bunda Indari membaca satu per satu kisah itu. Bukan sekadar menilai tulisan, tetapi membaca luka yang tersembunyi, membaca rindu yang bergetar, membaca cinta yang belum sempat utuh.
Hingga akhirnya, tiga nama dipilih sebagai pemenang.
Intan, siswi SMP kelas 8 berkebutuhan khusus, menjadi juara pertama. Tulisannya sederhana, tetapi begitu jujur dan dalam. Ia menulis dari sesuatu yang tidak terlihat mata: dari hati yang terus merindukan figur yang pernah ia miliki.
Shaqila,siswi kelas 5 SD, menjadi juara kedua. Ceritanya mengalir lembut dan penuh kedewasaan. Ia menulis tentang ayah seperti menulis tentang cahaya—hadir meski tak terlihat.
Chaca, siswi kelas 2 SD, menjadi juara ketiga. Dengan kata-kata polos dan imajinasi cerah, ia menggambarkan ayah sebagai pahlawan. Tulisannya seperti lukisan pelangi—naif, jujur, dan menenangkan.
Ketika nama mereka disebut, ruangan dipenuhi tepuk tangan. Anak-anak tersenyum malu, beberapa memeluk kertas mereka, dan sebagian lainnya diam sambil menahan haru. Di belakang mereka, Kang Zae berdiri dengan mata yang penuh bangga, mata seorang ayah yang melihat anak-anaknya tumbuh melebihi luka mereka.
Siang itu ditutup dengan hidangan hangat dari dapur Kedai Gaza, serta para donatur Jum’at berkah Imah Seuri. Para ibu memasak dengan cinta, dan memandang terharu pada putra-putri mereka seolah merayakan bukan hanya kemenangan lomba, tetapi kemenangan hati.
Saya beranjak pulang dengan dada yang penuh. Ada sesuatu yang Allah tunjukkan hari itu bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Bahwa kehilangan bukan akhir dari cerita, tetapi awal dari takdir lain yang lebih indah.
Allah berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Anak-anak itu mungkin kehilangan ayah, tetapi Allah menggantinya dengan keluarga baru, cinta baru, dan ayah baru yang lebih besar hatinya daripada yang mereka bayangkan.
Hari itu, saya menyadari bahwa Imah Seuri bukan hanya tempat tinggal. Ia adalah tempat Allah memulihkan jiwa-jiwa kecil yang patah.
“Ayah tidak selalu hadir dalam rupa, kadang ia hadir dalam doa, dalam cinta, atau dalam seseorang yang Allah kirimkan untuk menggantikan kekosongan.”
#GerakanLiterasiIslami #LiterasiUntukHati #ImahSeuri #KedaiGaza
#HariAyahSedunia #AnakYatimBerdaya #MenulisMenyembuhkan
#IndariMastuti #KangZaeHanan #CintaYangMenguatkan


