5 C
New York
Senin, Desember 1, 2025

Buy now

spot_img

Self-Healing atau Bertahan? Pergulatan Emosi Perempuan

Infoindscript.com-Bogor, 21 November 2025

Self-Healing atau Bertahan? Pergulatan Emosi Perempuan kini menjadi topik yang semakin relevan di tengah tuntutan hidup modern. Banyak perempuan berjuang diam-diam melawan rasa cemas, kenangan masa lalu, dan tekanan sosial yang seolah menuntut mereka untuk selalu “baik-baik saja.” Padahal, di balik senyuman yang tampak tenang, sering kali tersembunyi pergulatan batin yang tak mudah diurai.

Ada saat-saat tertentu dalam hidup ketika kita merasa kuat, tetapi tiba-tiba tergelincir oleh sesuatu yang sangat kecil—sebuah kenangan, sapaan, suasana, atau bahkan keheningan. Perempuan sering kali menyimpan banyak hal dalam diamnya. Bisa berupa luka yang tak terucap, kecemasan yang tak terlihat, dan juga beban yang tak pernah benar-benar dibagi.

Di tengah ritme hidup yang terus menuntut untuk bergerak, kadang kita lupa bahwa hati juga butuh ruang untuk bernapas. Di sinilah pertanyaan itu muncul—apakah kita benar-benar sedang menyembuhkan diri, atau hanya terus bertahan agar tidak runtuh?

Mengapa Perempuan Sering Terjebak Antara Self-Healing atau Bertahan?

Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan memainkan berbagai peran secara bersamaan—anak, istri, ibu, pekerja, teman, sekaligus tempat berlabuh bagi banyak orang. Kompleksitas peran ini kerap membuat perempuan bingung membedakan mana yang benar-benar proses self-healing, dan mana yang sebenarnya hanya “bertahan” agar tidak runtuh.

Sering kali, perempuan memilih diam daripada menjelaskan isi hati yang sulit dipahami. Mereka terbiasa mengutamakan orang lain dulu sebelum dirinya sendiri. Namun tanpa disadari, kebiasaan itu mengikis ruang aman untuk mengolah emosi. Di sinilah titik pergulatan itu terjadi, apakah ini bagian dari penyembuhan, atau justru bentuk bertahan yang melelahkan?

Self-Healing atau Bertahan? Pergulatan Emosi Perempuan dalam Pengalaman Sehari-hari

Banyak perempuan mengenal trigger emosional yang datang tiba-tiba. Aroma tertentu, suasana rumah duka, hujan sore, atau sekadar percakapan ringan mampu menekan tombol kenangan lama yang pernah menyakitkan. Emosi yang lama terkubur muncul lagi ke permukaan.

Di momen seperti itu, perempuan sering berusaha memegang kendali. Entah, dengan cara menarik napas panjang, merapikan ekspresi, bahkan berpura-pura tidak terguncang. Namun jauh di ruang batinnya, ada pergulatan yang hanya dirinya sendiri yang tahu.

Proses ini sering disalahartikan sebagai self-healing, padahal terkadang yang terjadi hanyalah mekanisme bertahan. Self-healing yang sesungguhnya memberi ruang untuk merasa, bukan sekadar menahan.

Tanda-Tanda Kamu Hanya Bertahan, Bukan Benar-Benar Healing

Agar lebih mudah membedakan, berikut beberapa tanda bahwa proses yang dilakukan lebih dekat dengan bertahan daripada healing:

  • Terus menekan emosi karena takut dianggap “lemah.”
  • Mencoba sibuk agar tidak perlu merasakan.
  • Mengabaikan kebutuhan diri demi kenyamanan orang lain.
  • Merasa bersalah saat ingin istirahat atau meminta bantuan.
  • Berpura-pura kuat padahal batin sudah lelah.

Jika tanda-tanda ini muncul, bisa jadi kamu bukan sedang menyembuhkan diri, melainkan hanya menahan rasa sakit agar tidak terlihat di permukaan.

Bagaimana Memulai Self-Healing yang Lebih Sehat?

Self-healing yang sehat tidak harus mewah atau rumit. Perempuan bisa memulai dari langkah kecil, seperti:

  • Mengakui perasaan tanpa menghakimi diri sendiri.
  • Menulis jurnal untuk memahami emosi yang muncul.
  • Memberi diri waktu untuk beristirahat tanpa rasa bersalah.
  • Berani mencari bantuan profesional jika beban terasa berat.
  • Menetapkan batasan agar energi tidak terus terkuras.

Dengan langkah-langkah sederhana ini, proses healing menjadi lebih nyata dan tidak sekadar bertahan.

 Penutup

Pada akhirnya, Self-Healing atau Bertahan? Pada pergulatan emosi perempuan bukan sekadar pertanyaan, tetapi sebuah perjalanan panjang dalam memahami diri sendiri. Mungkin kecemasan akan selalu datang dan pergi, tetapi di setiap kemunculannya, perempuan berhak memberi ruang untuk berhenti, merasakan, dan memeluk dirinya sendiri. Self-healing sejatinya bukan tentang menjadi kuat setiap saat, melainkan berani melangkah sambil menggenggam tangan diri sendiri.

Cindiana Famelia
Cindiana Famelia
Cindiana Famelia, dikenal dengan nama pena Melia, adalah seorang ibu rumah tangga yang aktif menulis artikel, kisah inspiratif, dan catatan reflektif baik di blog pribadinya maupun media online.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles