Ada sosok yang selalu saya ingat setiap kali mendengar kata kombucha—beliau adalah Ibu Dini Masitah.
Beliau memulai perjalanan di Indscript sebagai seorang mentee di kelas menulis Indscript lalu menjadi penulis produktif, dan memang sejak awal saya melihat visibilitasnya begitu kuat.
Cara beliau menulis, cara beliau berinteraksi, hingga cara beliau mengekspresikan diri—semuanya menunjukkan bahwa kapasitasnya lebih dari sekadar penulis.
Itulah mengapa saya memutuskan untuk mengarahkan potensinya. Saya mengubahnya dari penulis menjadi mentor para penulis quote di Inscript, dan Masya Allah… keputusan itu tepat. Beliau bukan hanya kompeten, tetapi juga penuh energi, kreatif, dan mampu menularkan semangatnya kepada para penulis lain.
Dari pertemuan-pertemuan saya dengan beliau, banyak sekali insight yang saya dapatkan—terutama tentang kreativitas. Salah satunya lewat kombucha.
Beliau bukan hanya membuat kombucha, tetapi juga mengajarkan saya cara membuatnya. Beberapa kali saya pun ikut mencoba membuat kombucha bersama beliau. Rasanya menyenangkan—sebuah pengalaman yang bukan hanya tentang minuman, tapi tentang proses, kreativitas, dan eksplorasi.
Namun, karena kondisi kombucha yang kurang sehat, akhirnya saya berhenti membuat kombucha sendiri.
Tapi…. Saya tak mau berhenti menikmati kesegaran kombucha, apalagi suami saya jatuh cinta pada kombucha kopi Bu Dini.
Maka…saat ke Jakarta saya pun langsung memesan kombucha kopi buatan Ibu Dini.
Ada rasa yang berbeda ketika sesuatu dibuat dari hati. Itulah yang saya lihat pada Ibu Dini: passion, kreativitas, dan ketulusan untuk terus berbagi.
Sosok beliau mengingatkan saya bahwa di Indscript, bukan hanya karya yang tumbuh, tetapi juga manusia-manusia hebat yang menyertakan hati dalam setiap karyanya.


