Tadi malam, saya kembali diundang oleh TanyaMentor untuk live Instagram—kedua kalinya mereka mengajak saya secara khusus membahas tentang buku.
Setiap kali bicara tentang menulis, saya selalu memulai dari satu pesan penting: lepas dulu overthinking-nya karena justru di titik itulah menulis menjadi mudah, mengalir, dan jujur.
Banyak tokoh, profesional, bahkan pengusaha besar, ingin menulis buku tetapi terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka berhenti sebelum mulai seperti:
“Bagaimana kalau buku saya tidak laku?”
“Bagaimana kalau tidak ada yang mau baca?” Bahkan ada yang khawatir, “Dikasih gratis pun mungkin tidak ada yang mau.”
Belum lagi rasa takut buntu, takut salah, takut jelek—semuanya membuat proses menulis terasa berat.
Padahal, inti dari menulis itu sederhana: tuliskan dulu jejak hidup Anda untuk generasi penerus. Anak, cucu, keluarga—mereka adalah pembaca pertama yang paling berhak mengenali perjalanan hidup Anda.
Tidak perlu langsung membayangkan pembaca yang belum mengenal siapa Anda. Mulai saja dari yang paling dekat.
Namun, menariknya di INDSCRIPT, kami melihat bahwa buku hari ini sudah melampaui sekadar rekam perjalanan hidup.
Buku adalah Black Card—baik untuk masa kini maupun masa depan. Sebuah kartu akses yang membuka pintu-pintu peluang baru.
Itu sebabnya kami tidak hanya membuat buku biografi. Kami menyusun buku dengan memetakan titik-titik strategis yang selaras dengan goal penulisnya. Misal, jika ada penulis yang ingin menjadi MC profesional—maka buku menjadi Black Card yang memperkuat positioning itu. Ada yang sedang mencari investor—buku menjadi alat kredibilitas yang meyakinkan. Ada yang ingin memperluas jejaring bisnis—buku menjadi pintu kolaborasi.
Di INDSCRIPT, setiap buku bukan hanya cerita; ia adalah strategic tool dan saya selalu percaya: selama overthinking dilepas, setiap orang bisa menulis buku yang bukan hanya bercerita, tapi juga membuka jalan hidup baru.


