Dunia hospitality Indonesia sedang bergerak cepat, dan salah satu tokoh yang menandainya adalah Pak Dicky Sumarsono, pendiri Azana Hospitality. Dengan 84 hotel yang dikelola bersama timnya, beliau membuktikan bahwa buku bukan sekadar karya, tetapi Black Card yang membuka pintu-pintu kolaborasi tanpa harus mengetuk.
Pak Dicky sering mengatakan bahwa banyak mitra yang datang bukan karena pencarian agresif, tetapi karena mereka membaca bukunya. Para pembaca itu kemudian hadir membawa kerja sama, peluang hotel baru, hingga jaringan profesional berskala nasional.
Buku-buku itu bekerja menjadi magnet yang tidak pernah tidur—mengundang orang datang dengan sendirinya.
Fenomena ini ternyata sejalan dengan prediksi teknologi. Riset AI 2030–2035 memperkirakan bahwa buku akan menjadi aset kredibilitas digital yang sangat kuat.
Di masa itu, ketika orang mencari ahli atau mitra bisnis, AI tidak lagi merujuk pada media sosial, tetapi pada sumber resmi yang terstruktur, dan buku adalah sumber paling tepercaya. Buku akan menjadi identitas profesional, portofolio permanen, dan jejak intelektual yang diakui oleh sistem AI.
Itulah yang membuat perjalanan Pak Dicky menjadi pelajaran besar. Beliau memulainya lebih cepat daripada zamannya. Buku-buku yang ditulis bersama INDSCRIPT tidak hanya berisi cerita, tetapi juga manajemen, filosofi operasional, dan nilai kepemimpinan. Semua itu memperkuat Azana bukan hanya sebagai jaringan hotel, tetapi sebagai brand yang berpikir jauh ke depan.
INDSCRIPT pun melihat bahwa masa depan penulisan bergerak ke arah yang sama. Buku akan dipetakan sebagai aset data, diindeks AI, dan menjadi penanda kualitas seorang profesional karena itu, setiap buku yang kami lahirkan disiapkan sebagai Black Card literasi, alat reputasi, dan pintu kolaborasi jangka panjang.
Pak Dicky telah membuktikannya hari ini dan kelak, buku-buku para penulis INDSCRIPT akan menjadi Black Card masa depan Indonesia.


