Instagram sering kali dianggap sebagai tempat berbagi foto, aktivitas, atau momen manis sehari-hari. Tapi bagi saya, Instagram adalah panggung dakwah kebaikan yang modern — ruang untuk menebarkan inspirasi, perjuangan, dan nilai hidup yang bisa menggugah banyak orang.
Bukan soal siapa paling sukses, bukan juga tentang siapa paling menginspirasi,
tetapi tentang bagaimana kita berniat menyebarkan makna melalui setiap tulisan, gambar, dan cerita yang kita bagikan.
Saat ini, banyak pengusaha dan tokoh besar yang sebenarnya memiliki kisah luar biasa, tapi belum sempat dituangkan dengan cara yang menarik dan dekat dengan pembaca digital.
Di sisi lain, generasi muda — Gen Z dan milenial — justru haus akan cerita-cerita yang nyata, yang menyalakan semangat, bukan sekadar pencitraan.
Di sinilah peran saya sebagai storyteller hadir untuk membantu para tokoh, pengusaha, dan profesional — terutama dari kalangan Baby Boomers yang tidak terbiasa dengan dunia digital — untuk menjadikan akun Instagram mereka bercerita dengan nilai, bukan hanya berisi aktivitas.
Melalui layanan ini, setiap unggahan akan ditulis dengan gaya narrative branding — bukan hanya promosi, tetapi kisah autentik yang mencerminkan perjalanan hidup, filosofi bisnis, dan pesan kebaikan.
Setiap caption, foto, dan reels akan memiliki “jiwa” yang konsisten: membangun hubungan, bukan sekadar mencari perhatian karena saya percaya, cerita yang benar-benar menyentuh akan lebih kuat daripada strategi marketing apa pun.
Cerita yang ditulis dengan hati bisa menghubungkan generasi — dari Baby Boomers yang bijaksana hingga Gen Z yang bersemangat mencari makna.
Instagram, pada akhirnya, bukan sekadar tempat untuk “dilihat”, tetapi ruang untuk menginspirasi, menyentuh, dan menyalakan harapan.
Ketika akun Anda mulai bercerita — tentang perjuangan, nilai, dan perjalanan hidup yang penuh makna — maka sesungguhnya Anda sedang berdakwah dalam bentuk paling kekinian: melalui kisah yang hidup.


