5 C
New York
Senin, Desember 1, 2025

Buy now

spot_img

Rahasia di Balik Rasa Sibuk Tapi Tak Produktif: Fenomena Time confetti

Infoindscript.com – Jepara, 4 November 2025

Istilah multitasking mungkin sudah tidak asing lagi kita dengar. Bahkan dalam kehidupan modern saat ini “Multitasking” seperti menjadi sebuah tuntutan dan keharusan agar semua pekerjaan bisa terselesaikan.

Alih-alih terselesaikan, justru kenyataannya banyak yang merasa terlalu sibuk tapi tidak produktif sama sekali. Banyak pekerjaan yang justru tanggung hasilnya, tidak terselesaikan secara utuh. Sebagai contoh ketika ingin beristirahat sejenak, tiba-tiba anak menangis, muncul berbagai notifikasi dari gawai dan lain sebagainya.

Waktu seakan terpecah dan penuh dengan distraksi. Merasa kenapa ya, sudah seharian beraktivitas namun, masih merasa tidak produktif? Inilah yang disebut dengan fenomena time confetti. Simak penjelasan selengkapnya di artikel kali ini.

Apa Itu Time confetti?

Fenomena time confetti sangat umum dialami oleh orang tua terutama seorang ibu, baik ibu rumah tangga maupun ibu pekerja. Istilah ini pertama kali muncul, dikenalkan oleh Brigid Schulte. Seorang jurnalis dan penulis buku “Overwhelmed: Work, Love and Play When No One Has the Time.”

Dalam konsep ini, time confetti menggambarkan sebuah waktu yang terpecah menjadi potongan-potongan kecil yang menyebabkan seseorang sulit untuk memiliki waktunya secara utuh. Entah itu untuk beristirahat, fokus melakukan suatu kegiatan atau bahkan hanya sekadar menikmati hidup dengan tenang.

Salah satu contoh yang sering terjadi adalah ketika hari libur, saat waktunya bersama keluarga, orang tua tetap saja mendapatkan telepon tentang pekerjaannya. Sehingga fokus kebersamaan dengan keluarga terpecahkan.

Bisa juga seorang ibu yang harus melakukan banyak hal dalam satu waktu, yang terasa pekerjaan tidak kunjung selesai dan justru memakan banyak waktu. Contoh lain, seseorang yang ingin beristirahat sejenak namun, terganggu dan terdistrak oleh notifikasi dari gawai yang berlebihan sehingga tidak jadi untuk beristirahat.

Jadi bisa dikatakan bahwa time confetti ini sebuah waktu luang yang seolah ada, tapi tidak pernah benar-benar ada secara utuh karena terus menerus terselip oleh berbagai hal atau tugas kecil sehari-hari.

Ciri-Ciri Time confetti

Fenomena time confetti disinyalir banyak dialami oleh para ibu. Hal ini tidak lepas dari peran ganda yang mereka mainkan seperti pekerjaan rumah, mengurus anak dan keluarga, sosial belum lagi dengan karir mereka.

Tidak hanya itu, kurangnya batas waktu pribadi ibu yang sering dianggap sebagai waktu bersama dan adanya budaya always on, membuat seorang ibu rentan mengalami time confetti. Berikut adalah ciri-ciri seseorang mengalami time confetti.

  • Sering merasa sibuk tetapi tidak benar-benar melakukan dan menyelesaikan sesuatu secara utuh.
  • Tidak memiliki waktu utuh untuk fokus mengerjakan pada satu hal.
  • Sering melakukan multitasking antara pekerjaan rumah, kepentingan pribadi dan mengurus keluarga.
  • Nyaris tidak memiliki waktu untuk me time atau melakukan sesuatu yang benar-benar disukai tanpa adanya distraksi.
  • Sering merasakan kelelahan padahal melakukan kegiatan tampak seperti biasa saja.

Dampak Time confetti Bagi Orang Tua

Meski terlihat sepele, time confetti ini bisa menyebabkan dampak buruk bagi orang tua dalam jangka panjang. Tidak hanya berpengaruh terhadap anak namun, juga berpengaruh terhadap hubungan dengan pasangan.

1.      Kelelahan Kognitif dan Emosional

Dampak signifikan yang akan terasa adalah kelelahan secara kognitif dan emosional karena sulit merasa “selesai”. Otak terus bekerja dan tidak pernah benar-benar beristirahat sejenak.

2.      Menurunnya Kualitas Hubungan

Time confetti menyebabkan orang tua merasa lelah sehingga mudah emosional, tersulut emosi dan marah. Tentunya keadaan ini jika terus berlanjut akan berdampak buruk pada keluarga. Terutama hubungan dengan anak dan pasangan karena mereka orang terdekat yang bisa jadi sasaran utama kelelahan orang tua.

3.      Kurangnya Waktu Me Time

Meski ada waktu untuk me time, tetapi waktu ini seolah-olah tidak pernah benar-benar ada karena selalu terselip kegiatan-kegiatan kecil didalamnya.

4.      Berpotensi Terkena Silent Fatigue

Dampak terbesarnya adalah bisa terkena silent fatigue. Rasa lelah yang terpendam dan sulit untuk dipulihkan hanya dengan beristirahat secara fisik. Orang tua terlihat kuat padahal merasakan lelah yang luar biasa secara mental dan fisik tanpa mereka sadari.

Cara Mengurangi Time confetti

Time confetti bisa dicegah dan berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan.

1.      Buat Time Blocking

Alih-alih melakukan multitasking berlebihan, time confetti bisa dikurangi dengan cara membuat time blocking atau mengalokasikan waktu secara khusus. Semisal 30 menit waktu untuk me time tanpa ada distraksi dan 30 menit waktu full bersama anak.

2.      Terapkan Aturan Digital Boundaries

Menerapkan digital boundaries juga penting seperti mematikan notifikasi di jam-jam tertentu dan gunakan mode “do not disturb” ketika sedang beristirahat atau saat berkumpul bersama keluarga.

3.      Delegasi dan Berbagi Peran

Belajarlah untuk percaya dan mendelegasikan tugas kepada pasangan atau anggota keluarga yang lain dalam menyelesaikan pekerjaan rumah. Layaknya mengajarkan anak tentang tanggung jawab kecil seperti membereskan mainannya sendiri.

4.      Jadwalkan untuk Me Time

Usahakan untuk punya dan menjadwalkan waktu me time untuk diri sendiri. Entah itu seminggu sekali atau sebulan 2x sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang dialami.

5.      Lepas dari kata “sempurna”

Menjadi dan mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna memang bagus. Akan tetapi belajar untuk menerima tidak sempurna, tidak ideal juga perlu. Terima kondisi yang tidak ideal juga, karena tidak mungkin segala sesuatunya terus sempurna. Dalam kondisi tertentu terimalah ketidakidealan yang ada.

Kesimpulan

Tanpa sadar time confetti menjadi musuh halus dan terbesar dalam keseimbangan hidup orang tua modern saat ini. Bukan tidak punya waktu, hanya saja waktu tersebut terpecah-pecah menjadi bagian yang kecil sehingga tidak pernah benar-benar hadir atau ada secara utuh.

Dengan adanya kesadaran, pengaturan kembali prioritas dan dukungan dari orang-orang sekitar terutama keluarga diharapkan mampu menyatukan kembali potongan-potongan waktu tadi menjadi momen yang utuh kembali dan berharga.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles