-0.7 C
New York
Jumat, Januari 16, 2026

Buy now

spot_img

Mengosongkan Diri demi Menemukan Cinta Sejati

Bersyukur menjadi satu dari 30 orang yang mengikuti kegiatan Metanoiac Self Healing, hari pertama pada 1 November 2025, dan insyaAllah akan berlanjut pada 2 November 2025.

Biiznillah, tidak ada sesuatu pun tanpa izin Allah. Melalui Teh Enur, saya bisa menghadirinya. MasyaAllah, Allah mempertemukan saya dengan sebuah perjalanan baru — perjalanan menuju Allah dan Rasul-Nya sebagai pedoman hidup.

Workshop ini bagaikan ruang belajar yang menuntun manusia untuk kembali mengenali dirinya, hatinya, dan Tuhannya.

Acara ini diselenggarakan pada 1–2 November 2025 di Posters Hotel MICE, Bandung. Seperti biasa, saya memilih duduk paling depan ketika berada dalam majelis ilmu.

Bagi saya, duduk di depan berarti lebih dekat dengan guru, bisa melihat dengan seksama, dan memahami dengan hati setiap kalimat yang disampaikannya.

Terbukti, apa yang disampaikan para guru berhasil membuat pertahanan kerasnya hati saya jebol. Saya menangis tanpa henti dan merasa sangat kecil di antara dosa-dosa yang pernah saya perbuat. Na’udzubillah.

Kelas dimulai dengan catatan-catatan penting yang kemudian dikaitkan dengan ide implementasi dalam kehidupan. Hasilnya, buku catatan saya penuh berlembar-lembar halaman. MasyaAllah.

Menyiapkan diri untuk berguru — dengan hati yang siap menerima, pikiran yang dikosongkan, dan diri yang ikhlas untuk belajar — membuat saya yang awalnya hanya berencana ikut di hari pertama, akhirnya memutuskan untuk menggenapkannya hingga hari kedua, setelah izin dari suami diberikan.

Saya percaya, self-healing bukan sekadar kegiatan relaksasi atau penyembuhan luka batin. Lebih dari itu, ia adalah perjalanan spiritual untuk kembali pulang ke dalam diri dan kepada Allah.
Mengosongkan hati berarti memberi ruang bagi cinta yang hakiki; mengosongkan pikiran berarti membiarkan hikmah masuk tanpa hambatan; dan mengosongkan diri berarti menyiapkan wadah untuk diisi oleh cahaya-Nya.

Satu hal besar yang saya pelajari dalam kegiatan Metanoiac Self Healing adalah pentingnya menjaga hati agar tidak sombong.
Ternyata, kesombongan tidak selalu tampak. Ia bisa hadir dalam bentuk rasa paling kecil — merasa tahu, merasa mampu, merasa cukup. Dan ketika hati masih menyimpan kesombongan sekecil apa pun, Allah bisa mengambil bagian dari apa yang kita miliki… agar kita belajar arti rendah hati yang sesungguhnya.

Sifat-sifat tawadu’ yang diajarkan di sini sungguh menenangkan:
tidak merasa punya kedudukan, mau menerima kebenaran, tidak menghendaki jabatan, gemar menolong, santun dalam berbicara, pandai berterima kasih, mudah meminta maaf dan memaafkan, serta tidak berlebih-lebihan dalam segala hal.

Ketika saya merenungi aktivitas saya sehari-hari, saya sadar… mungkin masih ada serpihan kesombongan dalam diri saya. Dan di sinilah saya belajar, bahwa setiap kehilangan, setiap ujian, setiap pengambilan oleh Allah — sesungguhnya adalah cara-Nya mendidik hati agar kembali tunduk dan bersih.

Dari testimoni para peserta sebelumnya, saya belajar bahwa Metanoiac Self Healing telah menjadi titik balik bagi banyak orang.

Kata Bu Manda: “Kita semua selalu merasa diuji di titik terendah, namun kegiatan MSH telah mengubah cara pandang saya tentang ujian.”

Kata Ibu Sri: “Dengan MSH, saya kini menyerahkan dan memasrahkan semua urusan kepada Allah.”

Lalu bagaimana dengan saya?
Baru satu hari di kelas MSH, saya semakin mengenali dosa-dosa apa yang membuat Allah mengambil apa yang saya cintai. Saya menangis, karena menyadari — tidak secuil pun ujian itu sebanding dengan apa yang dialami Rasulullah. Lantas, kenapa saya harus mengeluh?

Saya belajar banyak untuk mengenali keadaan mindset, mengubahnya karena Allah, dan memperbaiki langkah ke depan.

MasyaAllah, setiap jiwa berhak berubah, setiap hati berhak tenang, dan setiap langkah menuju kesadaran adalah bagian dari ibadah.

Hari pertama ini meneguhkan saya untuk melangkah dengan niat yang jernih — hanya karena Allah, meneladani setiap hal dari Rasulullah, dan bertekad menjadi pendakwah dari setiap ilmu yang Allah izinkan saya serap.

Saya percaya, ketika hati, pikiran, dan diri dikosongkan dengan keikhlasan dan kerendahan hati, di sanalah Allah akan menanamkan cinta sejati yang sesungguhnya.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles