Infoindscript.com – Jepara, 30 Oktober 2025
Siapapun itu pasti tahu kalau sudah menyandang predikat “Istri atau Ibu” baik fulltime mom maupun worker mom untuk menyeimbangkan peran antara pekerjaan, rumah dan keluarga bukanlah hal yang mudah.
Tidak hanya menguras energi secara fisik, juga membutuhkan fokus dan pikiran yang luar biasa. Pekerjaan yang dilakukan secara terus menerus, berulang dan hampir dilakukan setiap hari. Tanpa disadari banyak dari mereka yang merasa lelah, tetapi rasa itu terabaikan. Kira-kira, kapan terakhir kali Ibu benar-benar beristirahat untuk diri sendiri?
Banyak dari Ibu yang mengabaikan rasa lelah yang dialami , sehingga tanpa disadari mereka mengalami silent fatigue. Sebuah kelelahan yang tidak selalu terlihat tetapi terasa sangat mendalam. Tidak hanya lelah secara fisik namun, juga secara mental.
Apa Itu Silent Fatigue?
Silent fatigue sendiri merupakan salah satu bentuk kelelahan yang tidak terlihat secara fisik, namun, bisa dirasakan secara mental dan emosional. Seseorang yang mengalami terlihat biasa saja bahkan mereka tidak menyadari jika terkena silent fatigue.
Mereka tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa. Bekerja, mengurus anak, keluarga dan membereskan rumah. Mereka terlihat baik-baik saja namun, dibalik itu semua ada rasa lelah yang menumpuk dalam diri dan tidak tertuntaskan.
Berbeda dengan kelelahan fisik yang bisa dihilangkan dengan istirahat atau tidur setelah itu tubuh terasa segar, silent fatigue lebih diam, halus dan tidak disadari oleh yang mengalaminya. Sering kali silent fatigue ini diibaratkan dengan kelelahan batin yang bersembunyi dibalik ketegaran. Kelelahan mental yang membuat hati dan pikiran mulai kehilangan tenaga untuk menikmati hidup.
Kondisi seperti ini sering kali dialami oleh ibu rumah tangga maupun ibu pekerja. Sebagai contoh rutinitas sebagai ibu rumah tangga yang berulang tanpa jeda, kurangnya pengakuan sosial karena dianggap tidak bekerja. Padahal mengurus rumah tangga menanggung beban mental yang besar, jarang mendapatkan waktu untuk diri sendiri dan munculnya rasa bersalah saat beristirahat memicu ibu rumah tangga terkena silent fatigue.
Begitu juga sebaliknya dengan ibu pekerja yang harus menghadapi dua tekanan ganda, dari menyelesaikan pekerjaan kantor sambil tetap menjadi ibu dan istri di rumah. Selain itu juga harus menjaga keprofesionalisme di kantor meski tubuh dan pikiran terasa lelah. minimnya waktu istirahat dan tuntutan untuk sempurna di dua dunia, karir dan juga keluarga.
Tanda-Tanda Seseorang Mengalami Silent Fatigue
Silent fatigue tidak hanya terjadi pada ibu rumah tangga ataupun ibu pekerja, akan tetapi setiap orang berpotensi mengalaminya. Namun, secara umum orang yang mengalami silent fatigue akan memiliki tanda-tanda sebagaimana berikut.
- Tubuh sulit untuk merasa segar kembali meski sudah tidur atau istirahat yang cukup.
- Mudah merasa lelah secara emosional dan menjadi mudah tersinggung.
- Kehilangan terhadap minat yang dulu disukai atau yang menjadi hobinya sehingga jarang melakukan kegiatan tersebut.
- Menjalani hari demi hari terasa berat, kosong tanpa semangat, harapan dan autopilot semata.
- Terlalu fokus dengan menyenangkan orang lain, memenuhi kebutuhan orang lain hingga lupa untuk memenuhi kebutuhan sendiri, memperhatikan diri sendiri dan memberi waktu luang untuk diri sendiri.
- Biasanya orang yang terkena silent fatigue tidak ingin terlihat lemah di depan anak ataupun orang lain. Disamping itu juga mereka tetap terus bekerja meski kondisi tubuh sedang sakit.
Mengapa Ibu Rentan Mengalami Silent Fatigue
Sebenarnya tidak hanya seorang ibu yang mengalami silent fatigue. Semua orang baik laki-laki maupun perempuan berpotensi mengalaminya. Apalagi mereka yang masuk generasi milenial rentan sekali terkena silent fatigue karena beban dan tantangan hidup yang lebih berat dari generasi sebelumnya.
Namun, perlu dipahami bahwa perempuan atau seorang ibu, istrilah yang sering atau rentan mengalami silent fatigue. Seperti adanya tekanan untuk menjadi sosok ibu yang baik yang sempurna di mata anak dan keluarga, tidak boleh melakukan kesalahan dan lain sebagainya.
Kurangnya dukungan emosional dari lingkungan, pasangan, keluarga dan adanya pola pikir “tidak apa-apa, aku bisa sendiri, aku kuat” bisa menjadi tekanan dan beban tersendiri. Disamping itu pula memiliki tanggung jawab ganda dan besar seperti mengurus rumah, anak, suami dan belum lagi dengan tanggung jawab pekerjaan-pekerjaan lainnya.
Perlu diketahui juga bahwa silent fatigue yang dibiarkan berlarut-larut, dalam jangka panjang akan berdampak pada kesehatan fisik penderitanya. Seperti mengalami insomnia, migren dan sistem imun menurun.
Kelelahan ini juga bisa berkembang menjadi burn out dan menyebabkan hilangnya koneksi emosional diantara keluarga karena merasa kelelahan.
Cara Mengatasi dan Mencegah Silent fatigue pada Ibu
Beberapa hal ini bisa bantu para Ibu untuk mengatasi dan mencegah terjadinya silent fatigue. Kegiatan sederhana yang punya pengaruh besar untuk kesehatan mental Ibu.
· Sadari dan akui rasa lelah yang terjadi pada diri
Tidak apa-apa untuk tidak selalu kuat. Tidak perlu khawatir atau cemas karena tubuh dan pikiran pun punya hak untuk beristirahat.
· Ambil me time atau waktu untuk diri sendiri
Waktu untuk berdamai, bercengkrama dan merawat diri sendiri untuk tetap menemukan jati diri. Semisal dengan melakukan kegiatan yang disuka atau melakukan hobi.
· Jangan lupa juga untuk melakukan komunikasi dengan pasangan
Bicarakan perasaan Anda dengan pasangan agar saling mengerti dan bisa berbagi. Bisa juga dengan mengobrol dengan teman atau bergabung dengan komunitas untuk menemukan insight baru untuk mengatasi persoalan yang dialami.
· Atur Ulang Skala Prioritas
Atur kembali skala prioritas karena tidak semuanya harus sempurna. Kerjakan atau utamakan kegiatan yang penting dan mendesak terlebih dahulu, kemudian bisa dilanjutkan dengan kegiatan penting namun tidak mendesak, baru kegiatan lainnya.
· Cari Bantuan Profesional
Jika tetap merasa kewalahan untuk mengatasinya sendiri, bisa dengan mencari bantuan professional. Semisal Anda bisa mendelegasikan beberapa pekerjaan yang mungkin tidak sanggup Anda kerjakan sendiri. Dengan meminta bantuan setidaknya akan meringankan beban Anda.
Kesimpulan
Menjadi Ibu yang kuat bukan berarti ibu yang sempurna yang bisa melakukan apa saja dan kapan saja. Ibu yang kuat berarti tahu kapan harus berhenti sejenak dan kapan harus berjalan kembali.
Yuk, mulai peduli dengan kesehatan mental diri sendiri, karena peran ibu sangat penting dalam keluarga. Mulai dari istirahat sejenak agar terhindar dari silent fatigue karena Ibu juga berhak tenang agar lebih baik dan seimbang dalam mengurus keluarga dan juga pekerjaan.


