Pagi itu, Sinta menatap jam dinding sambil mengaduk tumisan sayur. “Duh, udah jam tujuh aja! Anak-anak belum berangkat sekolah!” serunya. Di meja makan, dua anaknya masih sibuk dengan ponsel dan tugas sekolah. Di antara hiruk pikuk pagi, Sinta teringat satu hal: sudah lama ia tak menyentuh buku selain resep masakan.
Namun sore itu, ketika menunggu jemuran kering, ia iseng membuka grup WhatsApp ibu-ibu komplek. Ada ajakan untuk ikut Gerakan Literasi Keluarga. “Apa sih gunanya? Aku kan bukan guru,” pikirnya sambil menggulir layar. Tapi karena penasaran, ia klik link yang dibagikan. Dan dari sanalah cerita kecil tentang perubahan Sinta dimulai.
Awal dari Rasa Ingin Tahu
Di pertemuan pertama, Sinta bertemu dengan puluhan ibu rumah tangga lain. Ada yang masih aktif bekerja, ada yang full di rumah, tapi semuanya punya semangat yang sama: ingin belajar lagi.
“Literasi itu bukan cuma membaca buku tebal, Bu,” kata narasumber sambil tersenyum. “Literasi itu memahami makna dari apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan.”
Kata-kata itu menempel di benak Sinta. Sejak hari itu, ia mulai meluangkan waktu 15 menit setiap pagi untuk membaca—kadang berita, kadang artikel parenting, kadang juga resep makanan sehat untuk anak-anak. Siapa sangka, dari kebiasaan kecil itu, hidupnya jadi terasa lebih ringan. Ia mulai paham cara memilih bahan makanan bergizi, tahu cara membuat jadwal belajar yang efektif untuk anak, bahkan jadi lebih peka terhadap informasi hoaks di media sosial.
Dari Buku ke Meja Makan
Perubahan Sinta ternyata cepat terasa di rumah. Anak sulungnya, Naya, yang awalnya sulit disuruh membaca buku pelajaran, mulai tertarik ikut membaca majalah anak yang dibeli ibunya. “Bunda, aku mau bacain artikel ini, ya. Tentang penemu robot mini!” katanya bersemangat. Momen kecil itu membuat Sinta sadar: literasi bisa menular—asal dimulai dari contoh.
Sekarang, setiap malam mereka punya ritual baru: membaca bersama sebelum tidur. Tak lama, sang adik ikut nimbrung, meski hanya melihat gambar-gambar lucu. Bagi Sinta, itu kebahagiaan sederhana. Tak ada lagi rengekan “bosan” di rumah. Sebagai gantinya, muncul tanya-tanya polos anak-anak: “Bunda, kenapa bintang bisa berkelap-kelip?” atau “Kok bisa ya makanan basi kalau nggak disimpan di kulkas?”
Dari pertanyaan-pertanyaan itulah, Sinta belajar kembali menjadi murid-murid kehidupan.
Literasi untuk Pelajar: Bukan Sekadar PR dan Ujian
Sementara itu, Naya di sekolah mulai menunjukkan perubahan. Ia tak lagi belajar hanya untuk nilai. Karena terbiasa membaca dan memahami, ia jadi lebih percaya diri saat berdiskusi di kelas. Guru pun memujinya: “Naya sekarang lebih aktif dan kritis ya. Kalau semua siswa seperti ini, belajar pasti lebih menyenangkan.”
Benar saja, literasi membuat pelajar seperti Naya tak sekadar menghafal, tapi memahami. Mereka tahu bagaimana mencari sumber yang valid, bagaimana menyusun ide, bahkan bagaimana menulis dengan gaya yang enak dibaca. Dan yang paling penting, mereka jadi gemar belajar, bukan karena disuruh, tapi karena ingin tahu.
Ketika Literasi Jadi Gaya Hidup
Seiring waktu, Sinta dan keluarganya menjadikan literasi sebagai bagian dari rutinitas. Saat memasak, ia mendengarkan podcast tentang gizi. Saat belanja, ia membaca label produk dengan lebih teliti. Saat anak-anak mengerjakan tugas, mereka berdiskusi bersama. Rumah kecil mereka kini seperti mini perpustakaan yang hidup, buku berserakan, tapi penuh cerita.
Sinta juga mulai menulis. Awalnya cuma catatan resep dan pengalaman harian, lalu berkembang menjadi tulisan pendek yang ia kirim ke grup ibu-ibu literasi. “Bunda Sinta, tulisannya lucu dan bermanfaat banget!” komentar salah satu anggota. Siapa sangka, dari kegemaran membaca, lahir pula keberanian untuk berbagi lewat tulisan.
Satu Hal Kecil yang Mengubah Banyak Hal
Dari kisah Sinta, kita belajar bahwa literasi bukan soal siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling mau belajar. Pelajar yang rajin membaca akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan kritis. Ibu rumah tangga yang gemar membaca akan menjadi pusat inspirasi bagi keluarganya. Dan jika keduanya berjalan beriringan—belajar, membaca, menulis, dan berbagi, maka masyarakat akan tumbuh menjadi lebih bijak dan berdaya.
Jadi, mari mulai dari hal kecil. Buka satu halaman buku setiap hari. Baca artikel positif. Tulis catatan syukur. Karena dari satu kebiasaan sederhana, dunia bisa menjadi lebih terang dan semuanya bermula dari literasi.
#LiterasiUntukBahagia #IbuCerdasAnakHebat #PelajarGemarMembaca #DariBukuUntukKehidupan


