“Setiap jalan hidup bisa menjadi ibadah, selama langkahnya diarahkan untuk mencari ridha Allah.”
Pertemuan saya dengan Teh Mia (Ibu Salmiah Rambe) bermula di acara milad Ibu Feny Mustafa, pendiri Shafira.
Saat itu, beliau memberikan tausiyah menjelang Ramadan yang begitu menyentuh hati. Ada kedalaman spiritual dalam setiap ucapannya, seolah beliau sedang menuntun para pendengarnya untuk kembali kepada fitrah: hidup hanya untuk Allah.
Dari situlah saya mulai ingin mengenal lebih jauh siapa Teh Mia. Saya pun menghubungi beliau dan kemudian bercerita tentang kekaguman saya kepada sosok yang begitu teduh tapi penuh semangat ini.
Ketika saya menanyakan tentangnya kepada Ibu Siti Oded, beliau langsung mengenalinya dan menyampaikan bahwa Teh Mia memang dikenal luas sebagai sosok yang aktif berdakwah dan berkiprah di tengah masyarakat dan saya pun semakin kepo dengan sosoknya.
Pertemuan kami berlanjut hari ini, dan masya Allah, begitu banyak inspirasi yang saya serap. Salah satu kisah yang benar-benar membekas adalah tentang pernikahannya yang dijalani murni karena ibadah. Beliau menikah tanpa pernah tahu bagaimana rupa suaminya. Semua dilakukan karena ketaatan kepada Allah dan rasa percaya kepada gurunya.
Dalam dunia yang serba visual dan materialistik seperti sekarang, kisah ini menggetarkan hati saya. Begitulah kekuatan iman. Ketika niatnya lurus, maka Allah-lah yang menata kisahnya menjadi penuh keberkahan.
Saya pun semakin kagum, Teh Mia tidak berhenti pada lingkup rumah tangga dan dakwah pribadi saja. Ia melangkah ke dunia politik, dan dengan rendah hati ia katakan, “Politik ini juga jalan ibadah.”
Saya tersenyum mendengarnya, karena saya pun memiliki jalan ibadah saya sendiri — menulis. Kalau saya meyakini bahwa menulis adalah jalan dakwah dan ibadah saya, maka bagi Teh Mia, berjuang di politik adalah cara beliau untuk menebar kebermanfaatan dan menjaga nilai Islam di ranah publik.
Kami banyak berdiskusi hari ini — tentang bagaimana ide dan pengalaman beliau di dunia politik bisa dituangkan dalam bentuk tulisan. Saya mengajarkan bagaimana menggunakan AI dengan benar, bukan sekadar bertanya dan memerintah si mesin ini, namun memanusiakannya sehingga bisa membuat tulisan yang “sesuai karakter penggunanya” dan mengubah pengalaman hidup dan nilai-nilai spiritual Teh Mia menjadi suara yang autentik.
Masya Allah, Teh Mia sangat pembelajar, beliau langsung action dan hasilnya mengalir dengan jernih dan menginspirasi.
Pertemuan ini terasa bukan kebetulan. Saya merasa Allah sedang mempertemukan dua pejuang dengan jalan yang berbeda, tapi dengan niat yang sama: menjadikan hidup ini ladang ibadah.
“Entah lewat pena, entah lewat kebijakan, selama diniatkan untuk Allah, semua langkah akan bernilai surga.”


