Saya mengenal Hj. Siti Muntamah, S.AP bukan hanya sebagai tokoh publik, tetapi sebagai sosok muslimah yang lembut namun kuat dalam prinsip.
Pertemuan pertama kami terjadi pada tahun 2014, ketika saya diundang ke rumah beliau. Saat itu, beliau masih menjadi istri dari Wakil Wali Kota Bandung, almarhum Kang Oded.
Saya masih ingat suasana pertemuan itu—saya mendengarkan beliau bicara: hangat, sederhana, dan penuh keberkahan.
Saya melihat sosok perempuan yang bukan hanya mendampingi suami dalam kiprah publik, tapi juga memegang kendali rumah tangga dengan penuh kemandirian.
Bayangkan, beliau memiliki tujuh orang putri dan menjalankan semuanya tanpa asisten rumah tangga dan akhirnya saya tuliskan dalam satu tulisan khusus di Kompasiana.
Kisah inspiratif itulah yang kemudian kami tuliskan bersama dalam buku Wanita Mencipta Surga. Dari situlah saya semakin mengenal sisi lain beliau—seorang perempuan yang menghidupkan dakwah dari rumah, dari cara mendidik anak, hingga menjadi inspirasi bagi banyak perempuan untuk kembali memaknai peran domestik sebagai ladang pahala.
Dari Rumah ke Ruang Publik: Dakwah yang Terus Bertumbuh
Perjalanan beliau tidak berhenti di lingkup keluarga. Kini, Hj. Siti Muntamah dikenal luas sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang mewakili Kota Bandung dan Cimahi.
Dengan latar belakang aktivis sosial dan Ketua Yayasan Kanker Indonesia Kota Bandung, beliau aktif memperjuangkan isu-isu pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, serta edukasi kesehatan masyarakat. Sosialisasi Perda, pembinaan masyarakat desa, dan kepedulian terhadap Palestina hanyalah sebagian dari langkah nyata beliau.
Hari ini saya melihat postingan di instagram kalau beliau menerima penghargaan sebagai Tokoh Perempuan Terbaik Peduli Palestina—penghormatan yang menurut saya begitu layak, karena sejak lama beliau menanamkan nilai kemanusiaan dan kepedulian lintas batas dalam setiap kiprahnya.
Teladan bagi Gerakan Literasi Islami
Sebagai pendiri INDSCRIPT Creative dan penggerak Gerakan Literasi Islami, saya percaya bahwa dakwah tidak hanya disampaikan lewat mimbar, tetapi juga lewat kata dan karya. Dan sosok Hj. Siti Muntamah adalah representasi sempurna dari konsep itu.
Beliau berdakwah lewat teladan, melalui tutur lembut yang konsisten pada nilai syariah, hingga lewat karya tulis yang memancarkan kebaikan. Inilah perempuan yang mengajarkan bahwa literasi sejati dimulai dari adab, dari lisan yang dijaga, hingga cara berpakaian yang sesuai dengan tuntunan Allah.
Perempuan Penulis, Perempuan Dakwah
Apa yang saya pelajari dari beliau adalah bahwa menulis bukan sekadar kegiatan intelektual, tapi bagian dari ibadah. Setiap kata bisa menjadi jalan menuju surga, jika niatnya benar.
Melihat perjalanan beliau dari rumah sederhana di Bandung hingga panggung penghargaan nasional, saya semakin yakin: perempuan yang menjadikan tulisan, tutur, dan tindakannya sebagai dakwah — dialah yang akan terus hidup dalam kebaikan.
Masya Allah, Tabarakallah.
Hj. Siti Muntamah adalah bukti bahwa perempuan bisa menjadi penerang dunia, tanpa kehilangan cahaya surga.


