5 C
New York
Senin, Desember 1, 2025

Buy now

spot_img

Jalan Kaki Sambil Memungut Sampah, Habit yang Asyik!

Sekitar pukul 05.15, saat embun masih membasahi dedaunan, langkah kaki membawa saya pada sebuah perjalanan yang lebih dari sekadar olahraga.

Panggilan dari tetangga, Ibu Dede di belakang rumah menjadi alarm alami, mengajak saya menyusuri jalanan perumahan untuk jalan kaki beberapa putaran.

Awalnya, hanya sekadar berjalan kaki, menikmati udara segar dan sapaan mentari pagi. Namun, mata ini tak bisa berbohong. Sampah kering berserakan, merusak pemandangan dan hati saya.

Dari situlah inisiatif itu muncul. Kresek di tangan menjadi teman setia setiap langkah. Sambil berjalan, saya memungut satu per satu sampah yang berserakan. “Neng, meni rajin, geulis-geulis mungut sampah” ujar Bu Dede yang membuat saya tersenyum, meski setelahnya Bu Dede malah ikutan mengambilkan sampah ke keresek saya.

Jika ada tetangga yang komentar pun saya hanya tersenyum, lalu mengajak mereka turut serta. Tak hanya memungut, saya pun mulai mengedukasi tentang pemilahan sampah, dimulai dari tetangga terdekat yang berjalan kaki bersama saya, atau mereka yang saya temui di rumahnya.

Masya Allah, kegiatan ini terus berlanjut, hingga menjadi kebiasaan yang sulit saya tinggalkan. Rasanya ada yang kurang jika berjalan kaki tanpa kresek di tangan. Lebih dari sekadar membersihkan lingkungan, kegiatan ini memberikan manfaat yang luar biasa. Jalan kaki menyehatkan tubuh, melancarkan peredaran darah, dan menjernihkan pikiran. Sementara memungut sampah, selain membuat lingkungan bersih dan indah, juga memberikan kepuasan batin karena telah berkontribusi positif bagi alam dan masyarakat.

Jalan kaki ini bukan hanya tentang kesehatan fisik, tapi juga tentang mempererat tali silaturahmi. Saya bisa lebih dekat dengan tetangga, saling berbagi cerita dan pengalaman. Seperti hari ini, saya bertemu Bu Deti di pagar rumahnya dan beliau mengajak saya melihat bibit cabe yang pernah saya berikan, kini sudah berbuah lebat. Rimbunnya tanaman cabe itu membuat saya takjub.

Di akhir pertemuan, Ibu Deti memberi saya bibit markisa. Langsung saya tanam di depan rumah, berharap kelak bisa menikmati buahnya yang segar.

Inilah kebiasaan baik yang ingin terus saya pupuk. Sambil berjalan kaki, memungut sampah, sama dengan beramal saleh. Konon katanya, pahalanya luar biasa bagi mereka yang membersihkan lingkungan.

Saya berharap, melalui kegiatan ini, saya bisa mendapatkan pahala yang berlimpah, serta terus menjalin kedekatan dengan tetangga yang memiliki hobi yang sama: berkebun, menjaga kebersihan, dan menciptakan suasana pangan yang sehat. Masya Allah.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles