5 C
New York
Senin, Desember 1, 2025

Buy now

spot_img

Cinta, Doa, dan Keteladanan di TK Ar Royan

Pagi itu, 22 Oktober 2025 udara terasa sejuk, langit sedikit berawan. Saya bersiap menuju TK Ar Royan, sekolah tempat cucu saya, Ghania, menimba ilmu. Hari itu terasa istimewa, karena sekolah mengadakan kegiatan Parenting bersama POMG (Persatuan Orang Tua Murid dan Guru), dan saya mendapat kehormatan untuk berbagi pengalaman sebagai narasumber.

Perjalanan dari rumah ke sekolah hanya sekitar lima menit, tetapi hati saya terasa hangat. Ada rasa bahagia yang tak bisa dijelaskan, mungkin karena hari itu saya akan berbagi cerita dengan para ibu yang sedang berjuang mendidik buah hatinya di tengah kesibukan hidup yang tiada henti.

Begitu tiba di pagar sekolah, suasana tampak ramai. Para guru dan murid tengah bersiap untuk kegiatan studi lapangan ke Panti Asuhan Muhammadiyah di Jalan Purnawarman. Anak-anak berbaris rapi sambil memegang tas kecil berisi bingkisan. Wajah-wajah mungil itu tampak ceria, tak sabar untuk berangkat berbagi kebahagiaan dengan teman-teman di panti. Di sisi lain, para ibu anggota POMG sibuk membantu menyiapkan perbekalan dan hadiah. Ada yang memeriksa daftar bingkisan, ada yang menata makanan ringan, ada pula yang sekadar tersenyum dan saling menyemangati. Begitu rombongan anak-anak berangkat dengan angkot, suasana sekolah menjadi lebih tenang. Tinggallah para ibu di halaman, menunggu dimulainya sesi Parenting dengan wajah antusias.

Belajar Bersama dengan Hati

Sekitar pukul 08.30 acara dimulai. Ketua POMG, Bunda Fasya, membuka kegiatan dengan sambutan hangat. Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia dan ibu-ibu yang menyempatkan hadir serta telah menyiapkan acara dengan penuh cinta. Acara dilanjutkan oleh Ibu Ela Suryati (nenek dari Elfariza) yang bertindak sebagai MC sekaligus moderator.

Setelah pembacaan ayat suci Qur’an yang dibacakan oleh salah seorang ibu yang hadir, saya dipersilakan maju untuk memulai sesi berbagi dengan tema “Mendidik Anak dengan Cinta, Doa, dan Keteladanan.”

Saya memulai dengan pertanyaan sederhana, “Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: sudahkah anak-anak kita merasa benar-benar dicintai?” Ruangan mendadak hening. Beberapa ibu menatap saya, sebagian lainnya tersenyum kecil, seolah pertanyaan itu menyentuh hati mereka. Saya lalu bercerita bahwa mendidik anak sejatinya tidak memerlukan teori rumit. Yang paling dibutuhkan adalah kehadiran yang tulus, kesabaran tanpa batas, dan teladan dalam keseharian. Anak belajar bukan dari kata-kata, tetapi dari perilaku orang tuanya.

Saya menekankan pentingnya orang tua memperlakukan anak sesuai dengan usianya serta memberi anak kepercayaan dan ruang untuk tumbuh. Ketika anak diberi kesempatan memilih baju sendiri, menyiapkan tas sekolah, atau membantu pekerjaan kecil di rumah, ia belajar bertanggung jawab. Cinta yang membebaskan bukan berarti melepaskan, tetapi mendampingi dengan kepercayaan.

“Cinta sejati bukan menahan anak, tetapi menguatkannya agar mampu terbang dengan sayapnya sendiri.”

Kalimat itu membuat suasana ruangan kembali hening. Beberapa ibu mengangguk pelan, dan tak sedikit yang tersenyum haru.

Diskusi yang Menyentuh Hati

Setelah sesi berbagi, kami melanjutkan dengan tanya jawab. Seorang ibu bertanya dengan nada lembut dan bergetar, “Bagaimana cara kita menjelaskan pada anak yang baru kehilangan ayahnya?” Saya menjawab pelan, “Sampaikan dengan jujur dan penuh kasih bahwa ayahnya kini berada di tempat terbaik bersama Allah, dan kasih sayangnya tak pernah hilang, hanya berpindah ke hati anak yang selalu mengingatnya.”

Pertanyaan lain muncul, “Bagaimana agar anak tumbuh kuat menghadapi dunia yang keras?” Saya tersenyum dan berkata, “Tanamkan cinta, bukan ketakutan. Anak yang dibesarkan dalam kasih akan lebih berani, karena ia tahu selalu ada cinta yang menuntunnya pulang.”

Diskusi siang itu berlangsung hangat dan penuh rasa haru. Para ibu saling berbagi pengalaman, ada yang menitikkan air mata, ada pula yang tersenyum lega setelah berbicara. Momen itu menjadi ruang berbagi rasa, tempat para ibu bertemu bukan hanya sebagai orang tua, tetapi juga sebagai sahabat dan sesama pejuang cinta bagi anak-anak mereka.

Sebelum sesi berakhir, para ibu diajak untuk selalu melangitkan doa dan dzikir di tengah kesibukan harian, terutama doa agar putra-putri mereka sukses di dunia dan bahagia di akhirat. Diharapkan pula, setiap ibu membiasakan diri menumpahkan perasaan, pengalaman, dan harapannya kepada Allah, baik melalui doa yang tulus maupun tulisan yang menenangkan hati.

Dengan cara itulah, proses mendidik anak menjadi perjalanan spiritual yang lembut, penuh cinta, dan selalu terhubung dengan bimbingan-Nya.

“Didiklah dengan cinta, iringi dengan doa, dan teladankan dengan sabar, karena dari hati ibu yang ikhlas, tumbuh generasi yang mulia.”

Penutup yang Menghangatkan Hati

Menjelang siang, acara ditutup dengan doa bersama. Setelah itu, para ibu menikmati makan siang sederhana sambil bercengkerama. Tawa kecil terdengar, namun ada kelembutan di dalamnya, tawa yang lahir dari rasa saling memahami.

Hari itu, saya pulang dengan hati penuh syukur. Dari wajah para ibu, saya melihat semangat baru: semangat untuk mencintai anak-anak dengan cara yang lebih bijak, lembut, dan penuh doa.

Kegiatan parenting di TK Ar Royan bukan sekadar acara rutin, tetapi momen yang meneguhkan bahwa mendidik anak bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang cinta yang sabar, doa yang tak putus, dan keteladanan yang hidup dalam keseharian.

Dan di tengah langkah pulang, saya tersenyum sambil berbisik dalam hati, *_“Dari hati para ibu yang penuh cinta inilah, kelak tumbuh generasi hebat yang berhati lembut.”+*

#ParentingDenganHati #TKArRoyan #CintaDoaTeladan 
#POMGArRoyan #BelajarSepanjangUsia #IbuPenuhCinta

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles