Setelah mempelajari lebih dalam tentang syariah, saya menyadari bahwa perbaikan tidak harus dimulai dari hal besar. Kadang, langkah kecil seperti memperbaiki pakaian bisa menjadi bentuk ketaatan yang membawa ketenangan luar biasa.
Lalu, saya pun memutuskan untuk memanjangkan kerudung. Lalu membeli satu kerudung yang panjangnya menutup sempurna, tapi tetap nyaman digunakan.

Saat pertama kali mengenakannya, hati saya tenang. Kainnya lembut, tidak panas, dan jatuhnya anggun. Yang membuat saya semakin jatuh cinta, kerudung ini bisa langsung digunakan untuk shalat tanpa perlu berganti mukena. Sederhana, praktis, tapi penuh keberkahan.
Sejak saat itu, hanya satu kerudung ini yang saya kenakan hampir di setiap kegiatan—menjadi pembicara, kunjungan bisnis, menerima tamu, bahkan saat perjalanan. Bisa dibilang pakai – cuci – kering – pakai, teruuus seperti itu karena hanya satu-satunya yang saya punya, sempat membeli kerudung sejenis tapi yang datang tidak pas di hati.
Anehnya meski setiap hari saya pakai, saya tidak bosan. Justru setiap kali memakainya, saya merasa seperti sedang mengingatkan diri sendiri untuk terus berhijrah, memperbaiki diri, dan istiqamah.
Suatu hari, seorang teman berkata, “Aku dari kemarin tuh ngeceng banget kerudungmu. Keliatan nyaman dan pas banget potongannya. Lekukan tidak terlihat namun nyentrik. Belinya di mana? Aku juga mau!”
Saya tersenyum. “Aku belum menemukan penjualnya malah lagi berniat menjahit ulang kerudung ini dengan beberapa modifikasi,” jawab saya.
“Kalau begitu, aku pesan dua ya, warna hitam dan merah,” katanya antusias.
“Harganya 275 ribuan sepertinya,” sahut saya.
“Bebaaas, aku pesen 2.”
Masya Allah… dari satu niat memperbaiki diri, ternyata Allah bukakan jalan rezeki. Saya jadi berpikir, mungkin memang bisnis terbaik adalah yang lahir dari sesuatu yang kita cintai dan gunakan dengan hati.

Kerudung ini bukan sekadar penutup aurat. Ia jadi pengingat akan niat, ketundukan, dan identitas sebagai muslimah. Dan siapa tahu, dari sehelai kain yang menutup aurat, Allah bukakan jalan dakwah dan pintu keberkahan bagi banyak orang.
Mungkin, ini juga saatnya bagi kita untuk kembali bertanya pada diri sendiri:
Apakah pakaian kita sudah menjadi bagian dari ibadah kita?


