“Bisnis bukan sekadar angka—rasa yang kita tanam itulah yang menjadikan usaha bermakna dan kuat.”
Tadi malam saya hadir di acara Business Talkshow: “Sukses Jalankan Bisnis & Bangun Gedung Berkat Panduan Arsitektural ala Feng Shui”, sebagai bagian dari Business Network International (Chapter Ganesha).
Salah satu alasan kuat saya datang adalah karena kehadiran mentor saya—Pak Perry Tristianto. Selain itu, bidang bisnis yang saya wakili di BNI adalah Makloon Furniture, sehingga topik tentang harmoni desain, ruang, dan rasa menjadi sangat relevan.
Pak Perry—yang dikenal sebagai “Raja Factory Outlet” serta tokoh yang merambah bisnis fashion, kuliner, dan pariwisata — menyampaikan sebuah insight yang membekas bagi saya: Feng Shui itu soal rasa.
Beliau menjelaskan bahwa setiap orang punya “rasa” yang unik—intuisi, kepekaan terhadap ruang, terhadap energi. Bukan semua elemen arsitektur feng shui cocok diterapkan di setiap bangunan, tetapi kalau kita memaknai “rasa” itu sebagai pijakan, maka kita bisa memilih elemen-elemen mana yang mendukung.
Di acara itu, Pak Perry mengingatkan para pengusaha untuk terlibat langsung dalam bisnisnya, karena hanya dengan keterlibatan nyata, kita bisa merasakan denyut usaha itu sendiri—dan dari situ muncul ide-ide baru, inovasi, serta strategi yang bersambung dengan kebutuhan nyata.
Saat ini jika kata banyak pengusaha “bisnis belum di masa terbaik” — namun beliau yakin kalau owner turun tangan, maka transformasi bisa terjadi cepat lewat rasa dan empati terhadap usaha itu sendiri.
Sebagai ilustrasi, beliau bercerita tentang keputusannya menginap di Hotel Shangri-La, Jakarta, dimana walaupun sarapan saja dibayar mahal (± Rp 430.000), yang menarik adalah Shangri-La menangkap rasa pelanggan—apa yang pelanggan inginkan dan harapkan—dan mengemas layanan itu. Rasa bukan barang abstrak; ia menjadi poin diferensiasi dalam layanan.
Saya ingat salah satu petuahnya: kalau ingin menjual buku, jangan hanya di toko buku—coba titip buku di tempat yang tidak biasa, misalnya toko pakaian. Ide ini pernah saya praktikkan ketika menitipkan buku saya di factory outlet milik Pak Perry.
Pak Perry memang punya cara berpikir yang beda; dia tidak terpaku pada aturan pasar konvensional, melainkan pada rasa kebutuhan dan peluang tersembunyi.
Melihat dari profilnya — Perry memulai bisnis sejak muda, mengalami kegagalan, kemudian membangun jalur usaha fashion (factory outlet), kuliner, dan pariwisata — saya makin mengagumi bagaimana beliau menggabungkan intuisi, rasa pasar, dan keberanian inovasi . Ketika orang lain melihat batasan, beliau melihat celah berdasarkan rasa terhadap peluang.
Bagi saya, tadi malam bukan sekadar talkshow bisnis — tapi ajakan transformasi kepemimpinan. Bahwa sebagai pemilik usaha (owner), kita harus sensitif terhadap rasa ruang, rasa pelanggan, dan rasa tim. Jika kita lepas tangan dan menyerahkan urusan ke orang lain semata, maka bisnis menjadi sekadar objek, bukan kehidupan yang dikelola dengan hati.
Semoga ajakan Pak Perry tadi malam menjadi pemantik: bisnis kita bukan hanya tentang pertumbuhan finansial, tapi tentang rasa yang hidup, integritas, dan inovasi yang lahir dari kepekaan hati.
“Ketika Anda merasakan denyut usaha Anda sendiri, maka inovasi dan keberkahan akan mengalir.”


