5 C
New York
Senin, Desember 1, 2025

Buy now

spot_img

Gerilya Literasi di Kalangan Ibu Rumah Tangga

Siang itu, di tengah obrolan santai bersama sekelompok ibu rumah tangga, saya bertanya hal sederhana,
“Siapa di antara ibu-ibu yang suka membaca?”

Tanpa saya duga, semua tersenyum malu dan menjawab hampir serempak,
“Aduh, Bu Indari, saya tuh nggak suka baca, malas banget baca buku…”

Saya hanya tersenyum. Bagi saya, itulah awal dari perubahan.
Saya lalu mengatakan kepada mereka,
“Kita semua ingin anak-anak kita cerdas, gemar membaca, dan punya wawasan luas. Tapi bagaimana mereka bisa suka membaca kalau ibunya sendiri tidak memberi teladan?”

Beberapa dari mereka terdiam. Dari sanalah obrolan kami mulai dalam.
Saya jelaskan bahwa literasi bukan hanya soal membaca buku, tapi tentang membangun pola pikir, memperkaya hati, dan memperkuat keimanan.
Dan ternyata, dari pembicaraan itu, beberapa ibu mulai berkata,
“Kalau begitu, saya mau belajar menulis, Bu. Biar bisa ikut menularkan semangat ini.”

Saya bahagia mendengarnya. Karena di titik itulah, gerilya literasi benar-benar dimulai.

Namun, bagi saya, literasi tidak berhenti di membaca dan menulis.
Saya percaya, kecerdasan sejati juga lahir dari kepedulian terhadap lingkungan.
Itulah sebabnya, dalam setiap kegiatan Gerakan Literasi Islami, saya selalu menyelipkan ajakan untuk memilah dan memilih sampah di rumah tangga. Saya bilang kepada mereka,
“Membaca dan menjaga lingkungan itu sama-sama bagian dari ibadah.”

Ternyata, perpaduan ini justru membuka hati mereka lebih luas.
Seorang ibu berkata, “Wah, kalau begitu saya juga mau belajar cara memilah sampah, Bu. Biar rumah saya jadi lebih berkah.”

Sebagai bagian dari para ibu itu, saya pun melakukan hal yang sama.
Saya bukan hanya seorang penulis yang cinta baca-tulis, tapi juga bagian dari gerakan peduli lingkungan bersama Bank Sampah Bersinar.

Bagi saya, membaca, menulis, dan memilah sampah — semuanya adalah wujud syukur dan ikhtiar untuk menjadikan rumah tangga lebih bersih, hati lebih tenang, dan hidup lebih bermakna.

Dan puncaknya, ketika saya memberikan satu buku kepada mereka: Saat Aku Tahu Allah Tak Pernah Pergi. Begitu mereka mulai membaca, seorang ibu langsung berkomentar,
“Ihh, kalau bacaan kayak gini saya suka, Bu. Rasanya kayak ngobrol, enak banget dibaca. Kalau buku-bukunya begini, saya juga mau baca terus!”

Saya tersenyum haru. Dari ibu-ibu yang awalnya tidak suka membaca, kini tumbuh semangat baru.

Gerakan Literasi Islami benar-benar hidup — tumbuh dari obrolan kecil, dari hati ke hati, dari satu buku yang membuka jalan menuju cinta pada ilmu, kepedulian, dan Allah.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles