Masya Allah, pertemuan hari itu benar-benar seperti membuka pintu ide yang segar. Saya bertemu dengan tiga perempuan inspiratif — Ibu Rira, dosen Universitas Jenderal Achmad Yani; Ibu Sri, dosen Universitas Teknologi Bandung sekaligus Ketua Pelaksana Gerakan Literasi Islami; dan Ibu Neni, Humas Dirjen Dikti yang menaungi seluruh humas perguruan tinggi di Indonesia.
Kami berbincang dengan sangat hangat, penuh tawa, tapi juga dalam — tentang pendidikan, literasi, dan peran dosen dalam membangun ekosistem keilmuan di Indonesia. Dari obrolan yang awalnya santai itu, tiba-tiba muncul ide segar: membangun kembali komunitas dosen.
Sebenarnya, INDSCRIPT pernah memiliki komunitas bernama Dosen Nulis Buku. Namun, seiring waktu, komunitas itu menjadi silent karena saya sendiri belum menemukan arah dan kebutuhan spesifik para dosen.
Tapi ketika akhirnya kami berempat mengobrol bisa membuka mata saya — ternyata, para dosen bukan sekadar ingin menulis buku, mereka juga membutuhkan ruang untuk belajar menembus hibah penelitian, saling berbagi peluang akademik, dan memperluas jejaring produktif.
Dari sinilah akhirnya lahir kesepakatan baru: INDSCRIPT akan membangun kembali komunitas untuk para dosen, kali ini dengan pendekatan yang lebih konkret dan bermanfaat.

Komunitas ini akan dikelola oleh Ibu Rira dan Ibu Sri, serta disupport penuh oleh Ibu Neni dari Dirjen Dikti.
Saya menyebut momen ini sebagai “silaturahmi tanpa batas” — karena dari pertemuan yang sederhana, Allah hadirkan gerakan besar yang akan membawa manfaat luas bagi dunia akademik dan literasi Indonesia.

Insya Allah, ini bukan sekadar komunitas. Ini adalah langkah baru untuk menginspirasi, menguatkan, dan menggerakkan para dosen Indonesia agar karya mereka tidak hanya berhenti di ruang kuliah, tapi juga hidup dalam bentuk tulisan, riset, dan kontribusi nyata bagi bangsa.


