Ada pertemuan yang terasa begitu hangat bukan karena lamanya waktu, tapi karena nilai yang dibagikan di dalamnya.
Hari ini saya kembali dipertemukan dengan Ibu Titin, sahabat sekaligus sesama wirausaha muda mandiri sejak tahun 2012. Dari dulu hingga kini, hubungan kami tetap terjalin baik—bukan hanya sebagai pebisnis, tapi juga sebagai sesama pejuang kebaikan.
Kini, kami tergabung di komunitas Business Network International (BNI), dan dari sanalah kami sering berinteraksi dalam berbagai kegiatan organisasi. Tapi pertemuan kali ini terasa berbeda.
Saat saya bercerita tentang Gerakan Literasi Islami (GLI), Masya Allah, beliau langsung merespons dengan penuh semangat dan spontan langsung menyumbang buku untuk mendukung gerakan ini.
Sikap itu tidak mengherankan. Sebagai owner Cravity, Ibu Titin memang dikenal memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Sejak awal kariernya sebagai sociopreneur, beliau sudah bekerja sama dengan penjara-penjara perempuan untuk melatih para narapidana membuat produk handmade.
Begitulah caranya menyalakan harapan bagi banyak orang—dengan karya dan aksi nyata.
Tak heran jika Gerakan Literasi Islami begitu cepat mendapat tempat di hatinya.
Terima kasih, Ibu Titin, atas partisipasi dan semangatnya.
Semoga kolaborasi ini menjadi bagian dari langkah kecil menuju perubahan besar — untuk masyarakat yang lebih berdaya, berilmu, dan berakhlak.


