Infoindscript.com – Bekasi, 12 September 2025
Bukan sekadar pertemuan daring, Jum’at malam 12 September 2025 menjadi momen penuh makna. Sekitar 30 orang mengikuti sesi zoom ini selama dua jam, menyimak kisah para penulis buku “Saat Aku Tahu Allah Tak Pernah Pergi.” Setiap cerita yang mengalir menyalakan kembali keyakinan bahwa Allah selalu dekat, bahkan di saat terberat.
Acara ini dibuka oleh moderator, Ibu Dian dengan sebuah kalimat sederhana namun menancap di hati: “Kita pasti pernah merasakan hidup yang gelap dan seperti tidak ada kesempatan. Tapi ketika mendekat pada Allah, apa yang kita keluhkan dan apa yang kita pasrahkan pasti akan diberi jalan keluar oleh Allah.” Untaian kata itu menjadi pintu masuk untuk memahami makna besar di balik hadirnya buku antologi ini.

Antologi dari 49 Penulis, Cahaya dari Berbagai Kisah
Buku “Saat Aku Tahu Allah Tak Pernah Pergi” bukanlah kumpulan tulisan biasa. Ditulis oleh 49 penulis dari berbagai latar belakang, setiap halaman lahir dari pengalaman nyata yang penuh luka, jatuh, bangkit, hingga menemukan kekuatan iman. Ada kisah tentang bisnis yang bangkrut, penerimaan terhadap kondisi orang terkasih, hingga kehilangan orang tercinta. Semua itu dihadirkan bukan menambah kesedihan, melainkan untuk berbagi hikmah yang bisa menjadi jalan inspirasi bagi pembacanya.
Moderator menegaskan tujuan penulisan antologi ini bukanlah sekadar menuangkan kata-kata, melainkan menghadirkan pengalaman spiritual yang dapat menggugah. “Niatkan ketika menulis antologi agar Allah memberi petunjuk dan manfaat. Apa yang ditulis semoga menjadi kebaikan dan kembali sebagai amal jariyah,” ucapnya.
Suasana Hangat, Kisah yang Menguatkan
Selama dua jam, suasana Zoom tidak hanya dipenuhi dengan pembacaan kisah, tetapi juga refleksi mendalam. Para penulis yang hadir menyampaikan bahwa perjalanan mereka diwarnai rasa putus asa dan rapuh namun selalu ada satu titik terang yaitu keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Beberapa penulis bercerita saat mereka merasa hidup seakan runtuh, lalu menemukan kembali pijakan ketika memilih untuk berserah pada Allah. Bahkan seolah merasa dunia begitu sempit, masalah silih berganti, dan seperti tidak ada solusi. Namun di tengah kegelapan itu, kehadiran Allah dirasakan begitu nyata menjadi penopang, sekaligus penuntun jalan keluar.

Kisah Indari Mastuti: Dari Bangkrut ke Bangkit
Salah satu kisah yang memberi warna adalah pengalaman Indari Mastuti sekaligus pendiri Indscript Creative. Dalam acara ini, ia berbagi perjalanan bisnisnya yang beberapa kali tersungkur. Tahun 2024 menjadi salah satu titik terendah ketika bisnis yang dibangun harus menghadapi kebangkrutan. Namun, justru dari keterpurukan itu, lahirlah kesadaran baru bahwa kebangkitan hanya mungkin terjadi ketika bergantung penuh pada Allah.
Indari menuturkan pengalaman pahit itu bukan sekadar kegagalan bisnis, melainkan sebuah proses spiritual. Dalam perjalanannya, beliau mendapat nasihat dari sahabatnya agar selalu menyertakan Allah dalam setiap mengambil keputusan. Sejak saat itu, beliau belajar untuk semakin dekat dan menyertakan Allah di dalam kehidupannya. Keyakinan inilah yang kemudian menuntunnya untuk kembali bangkit, menata ulang langkah, dan terus bergerak.
Indari juga menceritakan saat memilih tema buku yang akan ditulis juga melibatkan Allah, meski memerlukan proses yang panjang. “Kira-kira Allah ridho tidak dengan tema buku ini? Buku seperti apa yang akan ditulis agar Allah ridho dan memudahkan prosesnya?,” begitu tuturnya. Indari berharap buku antologi “Saat Aku Tahu Allah Tak Pernah Pergi” bisa mengantarkan pembaca pada keyakinan baru bahwa Allah tak pernah pergi dalam berbagai kondisi.
Kisah Inspiratif Lainnya
Kisah inspiratif juga datang dari Ibu Firdaus yang ikhlas menerima kondisi anak tercinta. Setelah menjalani konsultasi dan terapi, perlahan anaknya mulai lebih tenang dan menikmati proses belajar. Titik balik terjadi saat Ujian Nasional, ketika Ibu Firdaus pasrah pada hasil apa pun yang Allah berikan. Meski tidak diterima di sekolah favorit, justru dari situ anaknya belajar bangkit, rajin mencari teman diskusi, hingga akhirnya diterima di jurusan Arsitektur ITB. Menurut Ibu Firdaus, setiap anak memiliki titipan keistimewaan dari Allah yang justru menjadi kelebihannya.
Selain itu, hadir pula penulis lain seperti Ibu Lusijani, Ibu Amilah, dan Ibu Arie Widowati yang turut menyampaikan pengalamannya. Meski kisah mereka berbeda, namunbenang merahnya tampak jelas bahwa setiap ujian hidup selalu menjadi jalan untuk semakin mendekat kepada Allah. Dari perjalanan mereka, para peserta diingatkan kembali bahwa tak ada satu pun ujian yang sia-sia, sebab di baliknya selalu tersimpan hikmah yang menguatkan hati.
Buku yang Menyentuh Banyak Hati
Tidak mengherankan bila antologi ini mendapat sambutan hangat dari pembaca. Sejak terbit, sudah ada penulis yang berhasil menjual hingga ratusan eksemplar. Bagi sebagian orang, keberhasilan menjual buku mungkin hanya perkara angka. Namun bagi para penulisnya, setiap eksemplar yang sampai ke tangan pembaca adalah doa, sebuah upaya menyebarkan harapan, dan cahaya iman yang menular.
Buku ini juga menjadi penegasan bahwa menulis bukan hanya tentang keterampilan merangkai kata, tetapi juga tentang keberanian untuk menguatkan hati. Para penulis bersepakat, jika niatnya benar, maka tulisan bisa menjadi ladang amal. Bukan sekadar meninggalkan jejak tinta, melainkan juga amal jariyah yang terus mengalir.
Menghadirkan Kekuatan di Tengah Ujian
Sesi sharing zoom malam ini seakan menjadi pengingat bersama bahwa hidup memang penuh ujian, tetapi tidak pernah tanpa pertolongan. Setiap kisah yang dibacakan meneguhkan bahwa kegelapan bukan akhir, melainkan jalan menuju cahaya. Pesan yang paling kuat adalah keyakinan bahwa setiap orang bisa bangkit, seberat apa pun ujian yang dihadapi. Kuncinya ada pada keikhlasan menerima, kesabaran menjalani, dan keberanian berserah. Pada titik itulah, iman bekerja dengan cara yang paling indah yaitu menghadirkan ketenangan meski badai belum reda.
Penutup
Malam semakin larut, acara daring ini usai pukul 21.30 WIB. Namun, pesan yang tertinggal justru semakin kuat di hati. Antologi “Saat Aku Tahu Allah Tak Pernah Pergi” bukan hanya kumpulan cerita, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan refleksi diri yang lahir dari 49 hati, lalu bersatu untuk meneguhkan iman dan keyakinan di hati pembacanya.
Seperti yang ditegaskan Indari Mastuti, setiap kisah yang dituliskan dalam buku ini adalah upaya meneguhkan hati, sekaligus ajakan untuk kembali percaya bahwa Allah selalu ada dalam setiap kondisi. Bahkan di tengah rapuhnya hidup, kisah-kisah ini akan menjadi cahaya yang tak pernah padam. Para peserta meninggalkan acara ini dengan wajah lega, seakan mendapatkan energi baru untuk menghadapi hari-hari berikutnya. Dua jam itu terasa singkat, namun maknanya begitu panjang. Adapun info pemesanan buku “Saat Aku Tahu Allah Tak Pernah Pergi” dapat dilakukan melalui para penulis atau akun Instagram @bukuindscript.


