infoindscript – Bandung 07 Juli 2025
Saya lahir di Subang, tumbuh dari keluarga sederhana, tetapi penuh nilai. Sejak kecil, saya belajar bahwa hidup bukan soal keluhan, melainkan keberanian mencari akar dari setiap masalah.
Ketika menjadi pemimpin, saya tak ingin hanya mendengar laporan dari balik meja. Saya lebih memilih menyusuri sungai, berdiri di tengah sawah, menatap langsung ke mata warga, lalu bertanya—bukan hanya “apa yang terjadi?”, tetapi “mengapa ini terjadi?”
Dalam langkah saya sebagai Gubernur Jawa Barat, saya sering menemui bencana yang dianggap biasa. Namun, saya tahu, tak ada yang benar-benar biasa dari banjir atau longsor.
Karena selalu ada sebab yang bisa dicegah—hutan gundul, perizinan yang longgar, atau sampah yang tak dikelola.
Bukan hanya keluhan yang kutangkap, Tapi akar masalah yang harus diungkap.
Saya tidak ingin menjadi pemimpin yang pandai berwacana, tetapi abai pada tindakan. Saya ingin hadir sebagai pelayan rakyat yang jujur dan berani bertindak. Yang tak segan mencabut izin, menegur pelanggar, dan memperjuangkan alam yang sedang terluka.
Hari ini, saya terus berjalan dengan pangsi dan iket—bukan sekadar simbol budaya, tetapi pengingat akan akar. Karena saya percaya: dari akar yang kuat, akan tumbuh pemimpin yang tak mudah tumbang.
Saya, Dedi Mulyadi. Anak kampung. Dan saya akan terus berdiri di antara rakyat, mencari akar—bukan sekadar menampung keluhan.


