13.6 C
New York
Kamis, Maret 12, 2026

Buy now

spot_img

Menulis dari Negeri Orang: Ketika Pengalaman Hidup Menjadi Karya

Ketika saya mengetahui bahwa Ibu Mina saat ini tinggal di Perth, Australia, saya langsung teringat pada satu hal yang selalu membuat saya bersyukur dalam perjalanan mendampingi para penulis.

Penulis INDSCRIPT ternyata tidak hanya ada di Indonesia.

Mereka tersebar di berbagai negara.

Ada yang tinggal di Perth, ada yang di Dubai, ada juga yang pernah menulis dari Irak, bahkan dari Jerman. Kami pun memiliki grup khusus yang mempertemukan para penulis lintas negara ini. Di dalam grup tersebut, mereka saling berbagi cerita, pengalaman, dan tentu saja tulisan-tulisan mereka.

Yang menarik, ketika mereka mulai menulis, motivasinya bukanlah uang.

Sebagian besar dari mereka yang tinggal di luar negeri tidak berpikir bahwa menulis harus langsung menghasilkan penghasilan. Bagi mereka, menulis adalah cara untuk merekam perjalanan hidup—mengabadikan pengalaman yang mungkin hanya bisa dirasakan ketika seseorang tinggal jauh dari tanah air.

Hal-hal yang mereka tulis sering kali sederhana.

Tentang kehidupan sehari-hari, tentang perbedaan budaya, tentang pengalaman membesarkan anak di negeri orang, atau tentang kebiasaan masyarakat setempat yang berbeda dengan Indonesia.

Namun justru dari cerita-cerita sederhana itulah lahir karya-karya yang menarik.

Pada tahun 2013 hingga 2015, INDSCRIPT pernah bekerja sama dengan Elex Media Komputindo untuk menerbitkan beberapa buku yang ditulis oleh para ibu Indonesia yang tinggal di luar negeri. Di antaranya adalah buku The Best of Turkey, The Best of Belanda, dan The Best of Jepang.

Buku-buku tersebut ditulis oleh ibu-ibu Indonesia yang saat itu sedang tinggal di negara-negara tersebut. Mereka hanya menuliskan pengalaman mereka selama berada di sana—tentang kehidupan sehari-hari, tentang budaya yang berbeda, tentang kejadian-kejadian kecil yang ternyata menyimpan banyak pelajaran.

Dan ternyata tulisan-tulisan itu menjadi sangat menarik bagi para pembaca di Indonesia.

Sampai hari ini, banyak dari mereka yang masih terkoneksi dengan saya. Bahkan belum lama ini, saya baru saja mendampingi seorang ibu yang tinggal di Madinah untuk melahirkan karya tulisnya.

Karena itulah saya selalu mengatakan kepada para peserta kelas menulis, terutama yang tinggal di luar negeri, bahwa mereka memiliki bahan tulisan yang sangat kaya.

Seperti yang saya sampaikan kepada Ibu Mina.

Ketika seseorang tinggal di luar negeri, ada begitu banyak pengalaman yang sebenarnya bisa dituliskan.

Misalnya tentang bagaimana proses awal beradaptasi dengan lingkungan baru. Tentang bagaimana mencari tempat tinggal pertama atau homestay ketika baru datang. Tentang bagaimana cara mendidik anak di negara yang memiliki budaya berbeda dengan Indonesia.

Hal-hal tersebut mungkin terasa biasa bagi yang menjalaninya. Namun bagi orang lain, cerita-cerita itu bisa menjadi wawasan yang sangat berharga.

Ibu Mina juga bisa menuliskan hal-hal yang lebih spesifik.

Misalnya bagaimana sistem pengelolaan keuangan keluarga di Perth. Apa perbedaan gaya hidup masyarakat di sana dibandingkan dengan di Indonesia. Atau kebiasaan apa saja yang sebenarnya bisa diadopsi dan diterapkan oleh masyarakat Indonesia.

Tulisan-tulisan seperti itu bukan hanya menjadi catatan pribadi, tetapi juga bisa menjadi sumber pengetahuan bagi banyak orang.

Bahkan menariknya, proses menulis sering kali dimulai dari hal yang sangat sederhana.

Ada seseorang yang awalnya tidak pernah berpikir untuk menulis. Namun ketika mengikuti proses pengembangan diri—misalnya melalui talent mapping—ia menemukan bahwa salah satu kekuatan dirinya adalah menulis.

Dari situ ia mulai mencoba menuliskan pengalaman sehari-hari.

Sedikit demi sedikit.

Dari catatan kecil di media sosial.

Lalu perlahan berkembang menjadi tulisan yang lebih panjang.

Dan tidak jarang, kumpulan tulisan tersebut akhirnya berkembang menjadi sebuah buku.

Karena sesungguhnya buku yang paling hidup bukanlah buku yang hanya berisi teori.
Buku yang paling kuat adalah buku yang lahir dari pengalaman nyata—pengalaman yang jujur, yang dekat dengan kehidupan, dan yang mampu membuka wawasan pembacanya.

Karena itulah saya selalu mendorong para penulis untuk mulai dari apa yang mereka miliki.

Mulai dari pengalaman hidup mereka sendiri.

Dari sana, tulisan tidak hanya menjadi catatan, tetapi juga menjadi cara untuk bertumbuh, mengembangkan diri, dan pada akhirnya memberi manfaat bagi lebih banyak orang.

Siapa tahu, dari catatan sederhana seorang ibu Indonesia yang tinggal di Perth, suatu hari lahir sebuah buku yang menginspirasi banyak pembaca di tanah air.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles