Kapasitas panen dari kebun kami ternyata sangat terbatas. Sementara kebutuhan masyarakat akan sayur yang segar dan terjangkau justru semakin besar.
Di situlah kami mengambil keputusan yang menurut saya sangat penting.
Daripada berjalan sendiri, Naisar Garden memilih untuk membina dan melibatkan tetangga sekitar.
Hari ini mulai ada tetangga yang menanam bayam Brazil, ada yang mulai menanam berbagai jenis sayur lainnya di pekarangan rumah mereka. Harapannya sederhana: ketika semakin banyak orang menanam, maka ketersediaan sayur juga akan semakin kuat.
Dengan begitu kami tetap bisa menghadirkan sayur-mayur dengan harga terjangkau, mulai dari Rp5.000 per ikat, hingga berbagai paket sayur Rp20.000 yang bisa langsung dimasak oleh keluarga.
Kami ingin agar hasil bumi dari para petani ini bisa lebih mudah sampai ke tangan masyarakat.
Dan di sinilah peran yang menurut saya sangat menarik.
Karena pada dasarnya Naisar Garden lahir dari ekosistem perusahaan yang sudah lama bergerak di bidang sales dan marketing. Sister company kami terbiasa mengembangkan strategi penjualan, membangun jaringan pasar, dan memanfaatkan berbagai metode pemasaran modern.
Maka ketika kami memutuskan untuk berkebun, sejak awal kami sudah memegang satu konsep yang jelas.
Hasil kebun ini harus dijual dengan sistem yang kuat.
Tidak cukup hanya menanam.
Harus ada sistem distribusi.
Harus ada sistem pemasaran.
Di sinilah kami mulai memanfaatkan WhatsApp marketing.
Melalui WhatsApp, kami memperkenalkan hasil panen, membuat paket sayur, menawarkan sembako, hingga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya ketahanan pangan.



Bagi saya pribadi, ada satu keahlian yang ternyata sangat membantu dalam proses ini yaitu keahlian menulis.
Sebagai penulis, saya terbiasa merangkai kata, membuat narasi, dan menyampaikan pesan dengan cara yang menyentuh dan ternyata kemampuan menulis ini menjadi kekuatan besar dalam menjual hasil kebun.
Saya tidak hanya menulis daftar produk.
Saya bercerita tentang proses menanamnya.
Tentang bagaimana sayur itu dipanen.
Tentang bagaimana keluarga bisa memasak dengan bahan yang sehat dan terjangkau.
Dan ketika cerita itu disampaikan melalui WhatsApp, orang tidak merasa sedang ditawari jualan.
Mereka merasa sedang diajak memahami sebuah gerakan.
Gerakan untuk kembali menanam.
Gerakan untuk kembali menghargai hasil bumi.
Gerakan untuk memperkuat ketahanan pangan dari rumah.
MasyaAllah.
Dari sinilah saya semakin yakin bahwa berkebun dan menjual hasil kebun sebenarnya bisa berjalan beriringan dan melalui kekuatan WhatsApp marketing serta kemampuan menulis, hasil bumi itu bisa sampai ke lebih banyak rumah.
InsyaAllah, langkah kecil ini akan terus kami kembangkan karena bagi saya, Naisar Garden bukan hanya tentang kebun.
Ia adalah tentang kolaborasi antara petani, masyarakat, dan pasar. Lebih membahagiakan, semua ini juga menjadi bukti bahwa seorang penulis pun bisa ikut berkontribusi menggerakkan ekonomi hasil bumi melalui kekuatan kata-kata.


